Mungkin untuk diri sendiri, baik untuk sesama, atau terbaik untuk mengungkapkan perasaan (by: nikolaus philander/emsignehta)

Minggu, 15 November 2009

Kenapa diriku ini?

Hari sabtu, 14 november 2009, aku merasa sakit, mengapa tiba-tiba kepalaku pusing dan menangis. Wah, diriku ini dilanda kepedihan yang mendalam. Aku ingin segera pergi namun, itu sulit bagiku.

Aku meluapkan segala kepedihan yang dicampur dengan emosi dengan bermain gitar sambil menyanyikan lagu buatan sendiri, dan bermain drum dengan mengeluarkan segala emosi. Dan untung saja teman-teman mengajak ngedance. What?? Dance?? WB Dance. Ya, aku ikut dan rasa sedih itu hilang.

Rasa sedih itu muncul dengan emosi yang kurang stabil. Aku pun sedih karena masalah dalam diriku sendiri karena seseorang yang menurutku membuat diriku terlihat bodoh, yaitu diriku sendiri. Aku kesal terhadap diriku sendiri yang ceroboh, aku sekarang bingung ingin berbuat apa, rasa luka batin dalam hati masih belum terhapus, ditambah lagi sebuah luka kecil. Walau membaca buku humor, namun tetap saja diri ini hanya memaksa untuk tertawa. Aku ingin bebas. Namun inilah aku. Aku diam, namun salah, aku tertawa, namun itu semua paksaan dalam diri, aku menangis, beban bertambah, aku ingin bahagia, sulit, ya, apalah arti hidupku ini. Walau aku tau arti hidup yang sesungguhnya namun, hidupku ini punya arti atau tidak?

Pasti punya namun artinya tiada yang menyenangkan. Hahaha, stess, aku tidak ada harapan selain tidak emikirkan apapun menjauhi segala semua masalah yang telah kuperbuat dan menjauh dari orang yang menurutku dekat denganku. Ya, memang banyak yang dekat denganku, namun aku ingin sendiri, apa enaknya hidup bersama tetapi jika rasa bahagia tidak ada. Aku akan terus berjalan sesuai apa adanya. Sampai hari ini pun, segala kesedihan masih ada, aku ternyata terpuruk dalam kesedihan karena aku melecehkan segala sesuatu tentang kesedihan. Siapa yang bisa membantu aku?? Aku bingung dan coba untuk mengerti diri sendiri.

Selamat tinggal rasa bahagia yang selama ini telah menyelimutiku. Tingalkan aku rasa bahagia, karena saatnya kesedihan yang ada. Aku ingin bebas namun saatnya kesedihan yang melekat pada diri ini. Dan karena luka yang terakhir ini, aku kaku dan tidak bisa berbuat sesuatu yang menyenangkan.