Mungkin untuk diri sendiri, baik untuk sesama, atau terbaik untuk mengungkapkan perasaan (by: nikolaus philander/emsignehta)
Tampilkan postingan dengan label Sekedar Tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekedar Tulisan. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 November 2014

Menurutku "Cinta" itu adalah...

Haaaah...
Sudah berapa triliun orang mengartikan kata "cinta". Sulit bagi kita yang tidak pernah merasakannya untuk menjawab "apa itu cinta". Ya, perlu pengalaman dan juga kesadaran untuk memahaminya sungguh-sungguh. Karena itulah "cinta" memiliki banyak arti, makna, rasa, dan sebagainya. Namun, bukankah menarik jika kita bersama orang-orang terdekat kita membahas soal cinta? Hahaha, pastinya. Nah, karena ini blog saya dan postingan dari saya, "cinta" itu memiliki sesuatu makna yang unik bagi diri saya sendiri. Jawaban di sini mungkin berbeda dari pendapat orang lain, karena pengalaman setiap orang itu pasti berbeda bukan?

Pertama, cinta akan suatu barang atau hewan peliharaan. Nah, cinta di sini buat saya sendiri berarti sesuatu yang menggerakkan kita untuk menjaga dan merawat. Kedua, cinta untuk keluarga. Di sini saya melihat adanya keterikatan antara sekelompok manusia yang terdiri dari suatu ikatan keturunan. Cinta tersebut menciptakan ikatan yang tak pernah putus, selalu terikat, dan di dalamnya ada beragam sikap untuk membantu pengembangan diri dan kedewasaan karena ketergantungan yang membawa diri masuk ke dalam kehangatan akan kebersamaan serta kedamaian. Ketiga, cinta akan diri sendiri. Hal ini berarti kita memahami siapa aku, di mana aku, apa atau apakah aku, bagaimana aku, mengapa aku, dan semua menuju pada pemahaman akan diri sendiri. Keempat, cinta akan Tuhan. Cinta di sini berarti memahami akan iman dan kepercayaan dalam diri, karena kita tahu ada yang lebih "maha" di dunia ini yaitu Yang Mahakuasa. Kelima, cinta akan sahabat dan teman-teman. Di sini tiada pembedaan apalagi soal jenis kelamin. Sahabat dan teman-teman adalah suatu langkah membangun sebuah kesadaran untuk saling mengisi dalam beragam hal dan pengalaman. Mencintai sahabat dan teman berarti mau melindungi, menjaga, memahami, dan sebagainya. Cinta itu berarti menuju pada sebuah pemahaman akan hidup yang lebih luas di mana kita sadar akan adanya perbedaan dan tiada kesamaan antara aku, kamu, dia, dan mereka. Keenam, cinta akan negara atau tanah air. Hal ini mengarah pada kesadaran akan lingkungan di mana aku tinggal. Pastinya cinta akan tanah air memiliki pengorbanan yang besar untuk menyatukan manusia dalam satu rumpu kebangsaan. Nah, yang terakhir ini, cinta akan lawan jenis. Mungkin ini yang menarik untuk dibahas karena hal ini bisa menyangkut  keluarga, sahabat, Tuhan, dan tanah air atau negara.

Hehehe, cinta terhadap lawan jenis itu bagi saya adalah awal dari kehidupan. Mengapa? Jawabannya adalah dari sejarah atau pengalaman iman serta kepercayaan yang kita miliki bahwa manusia pertama di bumi yang berkuasa atas seluruh muka bumi dan isinya adalah Adam dan Hawa. Merekalah yang seharusnya menjadi simbol cinta sejati karena dari merekalah sesungguhnya segala yang ada di bumi terbentuk. Persatuan adam dan hawa-lah yang menciptakan dunia ini, dan dari sini jelas, bahwa cinta terhadap lawan jenis sesungguhnya memiliki pengaruh yang besar terhadap kehidupan. Oh iya, ini menurut pendapat saya lho...

Yup, jawaban sok intelektual di atas menurut saya adalah pembuka yang bagus untuk memahami cinta. Ingat! Menurut saya! Tapi, mungkin ada keinginan lebih untuk mengetahui pengalaman cinta dan saya sendiri memang bukan pakarnya tapi pernah mengalami, setidaknya ada-lah dari beragam cinta dalam beragam kehidupan. Tapi paling menarik mengenai cinta terhadap lawan jenis bukan? Antara aku sebagai cowok dan dia sebagai cewek. Ehm, ehm, pastilah menarik, apalagi untuk yang baru mengalami jatuh cinta terhadap lawan jenis.

Ok, pengalam cinta saya sendiri bisa dikatakan bagaimana ya? Tidak beruntung, tidak menarik, dan berujung pada tidak adanya kejelasan. Tapi jangan salah! Biasanya pengalaman cinta pertama terhadap lawan jenis biasanya membuka keadaan dan pemikiran diri sendiri terhadap pemahaman cinta yang begitu luasnya. Ehehe, itulah mengapa saya menulis di sini.

Terkadang cinta itu bagaikan bunga yang mekar di pagi hari dan menguncup di sore hari. Kadang cinta merubah rasa makanan yang biasa saja menjadi luar biasa. Bahkan cinta itu bisa mengubah aku yang dulu menjadi aku yang sekarang dan akan datang. Namun harus hati-hati, karena cinta bisa membawa diri pada beragam hal negatif. Mungkin inilah yang saya katakan tadi bahwa cinta Adam dan Hawa yang suci telah membawa manusia juga pada kejatuhan diri dalam dosa.

Saya bisa membagi pengalaman cinta saya karena dari sanalah saya bisa menemukan makna cinta seperti apa yang telah tertulis tadi. Dimulai dari kelas dua SMA, menyukai seorang gadis di kelas yang sama, dengan perasaan deg-degan ketika dekat dengannya atau berbincang dengannya, selalu punya khayalan apabila bersama dengannya, dan segala macamnya. Tapi pengalaman cinta saya berujung pada keanehan. Ada awalan, namun akhirannya menggantung, bahkan sampai detik ini. Ya, menjadi sesuatu yang unik karena saya tidak bisa mencintai wanita lain, tapi selalu mendapat penolakan dari wanita yang saya cintai. Hm, menarikkah? Unikkah? Saya merasa janggal. Namun itulah cinta.

Cinta itu merupakan getaran salah satu syaraf dalam diri manusia. Hal itu sebenarnya bisa "dibuang di tempat sampah", dengan kata lain dihapus, dan atau bisa "disimpan dalam kotak pandora" yang bila dibuka kapan saja jawabannya tetap sama dan membahagiakan. Pengalaman saya pribadi sih bisa dikatakan membuat saya kekanak-kanakan dalam hal cinta. Hahaha, karena itulah saya menulis hal cinta di sini. Bagaimana tidak? Jatuh cinta pertama kali, lalu menyatakannya pertama kali, tapi langsung ditolak, bahkan ketika mengungkapkannya lagi kepada orang yang sama secara lebih dari tiga kali, tetap mendapat penolakan. Yang mebuat kekanak-kanakan mungkin karena saya masih mencintainya sampai saat ini walaupun tahu penolakan itu terus ada dan pasti terjadi bila diungkapkan kembali. Ahaha, susah move on. Walau susah move on, saya menjadi  sadar, bahwa cinta itu tidak boleh dimainkan. Bukti bahwa cinta itu menjadi mainan adalah dunia saat ini, karena betapa mudahnya mengatasnamakan cinta hanya untuk memuaskan hawa nafsu atau kepuasan seks belaka.

Ya, cinta terhadap lawan jenis itu menarik di bahas. Apalagi ketika kita masih muda atau masa puber, ada aja bahasan soal cinta. Tapi itulah cinta, apa adanya, tidak pernah melukai, tidak bohong, mengarah pada kebahagiaan, serta menciptakan kehidupan positif. Inilah cinta yang sesungguhnya, bukan cinta "abal-abal". Saya sendiri sadar bahwa mencintai wanita yang saya sukai walaupun ia tidak mencintai saya merupakan warna tersendiri dalam kehidupan. Tiada kepalsuan, sungguh nyata, dan sulit untuk dilupakan. Mungkin jika setiap manusia memiliki cinta seperti ini, akan terlihat makna yang jelas akan cinta sejati.

Ah, kepanjangan gak ya? Ahahaha. Inilah bukti bahwa cinta itu membuat semangat. Baiklah, mungkin saya membuatnya dalam sebuah bait saja ya:

Cinta
Berawal dari aku dan kamu
Hingga terciptalah mereka

Banyak yang bilang itu indah
Padahal ada juga pahitnya
Katanya bisa merubah
Namun itu adalah nyatanya

Ribuan bintang malam kalah dengannya
Ia berdiri sendiri
Tetapi menciptakan hingga tak terhitung jumlahnya

Ia cerah dan gelap
Ada nada yang bergema di dalamnya
Bisa juga hampa
Hanya kekosongan yang ada

Mungkin manis
Bisa juga pahit
Mungkin indah
Tapi bisa juga buruk

Layaknya Alfa dan Omega
Beta dan Gama
Semuanya memiliki jarak
Tetapi selalu melekat

Hitam dan putih
Tidak hanya itu
Ada juga abu-abu
Bukti bahwa itu memiliki warna

Indah, memukau
Buruk, menyakitkan
Bukti bahwa cinta itu ada
Nyata dalam kehidupan dan selalu ada
Tidak mungkin tidak

Melebur dalam dua insan
Menciptakan keterikatan

Bagai alunan melodi
Ada jeda, ada lembut, keras, dan beragam

Cinta
Mungkin adalah segalanya
Semuanya bisa terjadi karena cinta
Tidak boleh diremehkan
Tetapi harus dibuktikan

Cinta
Tiada habisnya di dunia
Sulit ditulis dalam kata-kata
Karena hanya rasa dan perbuatan yang bisa membuktikannya

Itulah cinta...



Yup, mungkin itu jawaban menurut saya. Saya tidak bisa menjelaskannya secara detail dan jelas, karena itu murni dari hati dalam kehidupan nyata yang jatuh dalam perbuatan dan tindakan. Saya hanya ingin mengatakan bahwa jangan bermain-main dengan cinta. Walau apapun itu, jika sudah menyangkut cinta, pasti akan mempengaruhi kehidupan kita kemarin, sekarang, dan masa depan. Maka dari itu, rasakanlah cinta, maknailah cinta, dan berikanlah cinta. Bukalah diri dan jangan menutup diri dari yang namanya cinta. Rasakanlah dan nikmatilah! Itulah yang dibutuhkan CINTA :D

Minggu, 19 Oktober 2014

Kegelapan

Entah mengapa terasa indah, kehidupan yang tidak bisa dilupakan. Kenangan, mungkin ini maksudnya. Semua orang memilikinya. Tidak terkecuali saya. Rasanya membangkitkan hati dan kembali pada kebahagiaan. Bukankah ini indah? Kenangan, yang menurutku tidak begitu berbeda dengan keadaan diriku saat ini. Jika ditanya, apa sih isi dari kenangan itu? Benarkah keindahannya memberi kebahagiaan? Seandainya saya jujurpun, dunia tidak mengerti maksud kenangan diri ini. Semua menghadirkan senyuman. Rasa manis mencuat ke permukaan yang ditampikan oleh wajah. Tiada penilaian yang menyatakan semua itu di bawah sempurna. Maka jika saya ditanya apa kenangan hidupmu, jawabannya adalah kegelapan!

Hah?? Bukankah kegelapan itu menyedihkan, menakutkan, dan membuat diri terpuruk? Yup, seratus bagi anda yang menjawab itu. Namun bagiku, kegelapan adalah sesuatu yang tak tergantikan. Saya lebih senang bermain dengan kegelapan. Tiada kepalsuan di dalamnya. Alasannya sederhana. Apakah kita bisa melihat sesuatu dalam kegelapan? Orang yang luar biasa bodohnya pun akan mengatakan bahwa mereka tidak bisa melihat apapun di dalam kegelapan. Saya senang dengan kegelapan. Saya rasa kehidupan saya hingga saat inipun diliputi dengan berbagai kegelapan. Siapa bilang gelap itu selalu menakutkan? Kita hanya butuh keyakinan bahwa di dalam kegelapan terdapat makna terang yang membangun kehidupan. Bukankah kenyataan hadir di dalam kegelapan? Bayangkan saja dunia saat ini. Semua pemikiran yang terang, segala aktivitas dalam terang, segala keindahan dalam terang, semuanya tidak jauh beda dengan tindak kegelapan. Bahkan apa yang dilakukan dalam keadaan terang semuanya bisa lebih buruk dalam kegelapan.

Sulitkah menangkap semua ini? Ya, ini tulisan saya, jadi tidak semua orang akan paham. Tapi satu hal yang akan kita semua pahami, bukankah dunia ini tidak secerah yang kita pikirkan? Bukankah terdapat juga bayang kegelapan di dalamnya? Manakah yang lebih indah, terjerumus dalam kegelapan atau bahagia selamanya situasi yang cerah dan terang? Bukankah semua orang paham dan mengerti ada jalan menuju terang? Kalau ada jalan menuju terang, berarti sedang di manakah diri kita? Mungkin dapat dijawab seperti ini. Ketika kita berada dalam situasi gelap atau kegelapan, pasti kita mencari sesuatu yang terang. Secara logis, kita semua berada dalam kegelapan. Kegelapan itu memang buruk, tetapi akan berakhir dalam pencerahan dan penarangan. Itulah hidup yang selama ini manusia emban. Semua terbungkus menjadi kenangan. Tiada satupun kenangan manis yang memberi pencerahan apabila tidak diawali dengan kegelapan. Jadi, semua itu berawal dari kegelapan. Apakah permainan logika sederhana ini terlalu sulit?

Terang => Cahaya => Melihat => Tampak dengan jelas => Memberi makna => Hidup => Bahagia => Sempurna

Kegelapan => Kosong => Tidak terlihat bahakan sulit  melihat => Memberi kesakitan, kesedihan, keperihan, dan lainnya yang negatif => Berpikir untuk keluar => Menemukan jalan atau berusaha keluar => Meraih penerangan atau cahaya => Bahagia => Sempurna

Jika dibahasakan, mudahnya apa yang dihidupi semua berawal dari kegelapan. Semua itu menyedihkan. Hal ini memberi dorongan untuk bangkit. Pada akhirnya, segala usaha itu menghasilkan cahaya terang.

Ahahaha, ya ya ya. Semua orang juga tau bahwa kehidupannya tidak bisa langsung bahagia begitu saja. Perlu adanya kegelapan hidup demi membangun hidup yang lebih bahagia. Semuanya itu adalah roda kehidupan. Kita tidak tahu kapan dan bagaimana bahkan mengapa. Kodrat? Kurang tahu juga ya, soalnya ada orang yang meraih kebahagiaan kemudian terjerumus dalam kegelapan. Tapi tenang saja, toh pada akhirnya akan meraih kembali kebahagiaan itu. Bagaimana caranya? Jelas bahwa kita harus memiliki cara keluar dari kegelapan itu, dan jalannya hanya kita masing-masing yang tahu. Semua ini tidak mudah dilakukan jika hanya sendiri. Makanya di dalam kegelapan yang tidak dibatasi oleh waktu, kita semua dihadapkan dengan beragam cara dan berbagai opsi yang mendukung untuk meraih kebahagiaan yang cerah. Semuanya hanya bisa disadari masing-masing. Bukankah begitu, ahahahaha.

Ya, jika kembali pada diri saya, saya lebih senang dalam kegelapan. Entah mengapa saya berusaha lebih keras untuk meraih kebahagiaan. Dan bila sudah bahagia, bukankah kegelapan itu menjadi kenangan yang indah? Ahahaha, pasti kita akan menertawakan diri sendiri, tetapi mau bagaimana lagi? Semua itu adalah hidup yang perlu dilalui. Maka dari itu, mari memasukki kegelapan yang menghantar kita pada kehidupan, yakni pengalaman!

Jumat, 17 Oktober 2014

Sky High!

Wow, so(k) English, maybe? Haah, betapa indah jika diri ini benar-benar menjangkau langit. Sebenarnya gw juga bingung kenapa pake judul bahasa inggris begini. Ya, gw hanya merasakan keindahan dunia bila gw ada di langit tertinggi. Ahaha, seperti perkataan orang tua saja. Suatu rasa yang dialami pribadi tidak mungkin bisa dilepas begitu saja. Jelas sekali bahwa manusia adalah manusia. Mereka punya perasaan. Sulit apabila manusia dikendalikan pikirannya terus menerus seperti robot. Mungkin benar apabila ada ungkapan yang berbunyi "Dunia ini penuh sandiwara," karena menurut gw sih manusia sebagai pribadi masing-masing memiliki satu dua hal yang tidak bisa diungkapkan bahkan harus disimpan oleh diri sendiri. Buat gw ya kembali lagi pada judul postingan ini. Sky High! Langit tertinggi atau langit yang tinggi, atau mungkin saja setinggi-tingginya langit. Ahaha, gw hanya tertarik dengan kata sky-nya aja. Ini melambangkan apa yang gw alami saat ini. Semuanya terlalu tinggi. Sulit menjangkau langit. Gw manusia biasa ternyata. Kadang mau marah, tapi hanya bisa diam. Kadang mau nangis, tapi hanya bisa bengong. Manusiawi sih, penuh dengan topeng. Tapi mau apalagi? Kehidupan ini bukannya kita masing-masing yang menjalani? Memang semuanya terlihat indah dari langit bila di darat terdapat beragam warna-warni kehidupan. Bukankan keindahan di bawah itu bisa diraih dengan pergerakkan setiap pribadi? Menarik apabila setiap orang bisa meraih atau menjangkau langit tertingginya, tapi di atas langit masih ada langit, dan ini yang membuat setiap pribadi tidak pernah puas. Okelah hal ini amat biasa bagi kalangan yang menengah ke atas (perasaan, jiwa, pemikiran, atau dirangkum dalam kehidupannya). Bagaimana dengan manusia terpuruk, mental yang jatuh, atau dirangkum sebagai mahkluk yang sedang gundah gulana? Menyemangati orang mudah, tapi apakah benar setiap orang yang disemangati bisa berubah? Sekali lagi memang butuh perubahan diri sendiri. Tidak mudah. Rasanya hanya penuh keinginan dan untuk menjangkaunya begitu sulit. Orang terpuruk hanya punya harapan. Harapan itu adalah langit yang tertinggi. Gw sih lagi bingung karena gw sebagai salah satu yang terpuruk memiliki beragam harapan, impian atau bahkan cita-cita. Tapi itu semua bagaikan khayalan. Sulit dijangkau karena tinggi selangit. Sky High! Cemas? Ya! Bukankah itu normal dikalangan manusia menengah ke bawah (sekali lagi perasaannya lho!). Itulah kesulitan terbesar bahwa manusia seperti ini (salah satunya gw) harus berpacu dengan waktu, keadaan, perasaan, pemikiran, dan beragam kehidupan. Memang hidup tidak sendiri, tapi menuju langit impian butuh kekuatan diri sendiri. Menarik apabila hidup bisa menjangkaunya, langit impian. Jadi, buat gw hanya perlu satu hal yang harus gw hadapi saat ini, kenyataan. Ya, kenyataan harus gw hadapi untuk merubah diri. Tidak mudah, memakan waktu lama, dan menguras beragam unsur jiwa dan raga. Tapi bukankan langit itu harus dijangkau? Yup, all about this, whatever this is, just about a Sky High.

Rabu, 15 Oktober 2014

Melodi Hati

Suatu ungkapan yang tidak akan mati begitu saja
Tiada suatupun alasan untuk menghindarinya
Keadaan yang nyata merasukki diri
Dalamnya rasa yang sulit dipungkiri

Riuh gelombang nada bertaburan
Tidak dapat dikutip hanya bisa dirasa
Ketika itulah hadir suatu cinta
Dunia indah tanpa fatamorgana

Kuungkap nada itu dalam sebuah melodi
Indahnya membungkus hati yang mulai memudar
Buih-buih semangat mengalir dalam dada
Inilah gejolak diri
Melodi Hati

Takkan ada kematian
Sulit menemukan diri yang terpaku diam
Rasanya hanya ada keindahan
Semua bersarang dalam melodi merasuki hati


Senin, 13 Oktober 2014

Samudera

Seorang anak duduk di tepi pantai dengan beragam pertanyaan dalam dirinya. Ia tidak mengerti satupun jawaban atas segala pertanyaannya itu. "Mengapa air laut asin? Apa itu gelombang? Kenapa ada pasir pantai? Sampai di mana ujung lautan?", dan masih banyak lagi. Anak itu terdiam sambil memandang lautan yang tak berujung. Ia masih berdiam diri dan merasa takjub atas apa yang ia pandangi. Karena hari mulai sore, tanpa ia minta pandangannya menuju ke arah matahari terbenam. "Inikah alam tempatku hidup? Benarkah keindahan ini?" Suatu rasa mulai memainkan peran dalam diri anak itu. Sayangnya, hanya anak itu yang tau apakah itu. Tiada seorangpun yang mengerti. Anak itu mulai bergerak perlahan dan menuju penginapannya. Ia berhasil kagum dan terpesona akan apa yang baru ia alami. Dalam dirinya terdapat sebuah potongan pengalaman baru. Ia menemukan kehidupan yang baru ia sadari. Ia hanya mengatakan betapa luas samudera. Walau itu yang dikatakannya, ia tidak mengerti apa itu samudera.

Menurut Ku....

Hanya satu hal yang kukejar
Hanya satu impian yang kucari
Tiada lain tiada bukan
Kedamaian

Apa sih Kedamaian itu?
Bagiku, itu bukan perasaan semata
Apalagi pemikiran singkat

Jelas kesulitannya tidak diragukan lagi
Tidak semua orang mampu meraihnya dengan mudah
Beragam usaha mungkin bisa dilakukan untuk mendapatkannya
Tapi apakah benar bisa utuh selamanya?

Ada yang bilang ia merasakan kedamaian ketika makan es krim
Adapun yang mengatakan ia mengalami kedamaian ketika berada dalam suasana sepi

Masih banyak lagi...
Semua seperti hati benar-benar meraih kedamaian
Tapi, benarkah itu?
Apakah semudah itu?

Apa arti hidup jika begitu?
Bukankan kedamaian itu hidup?
Mengapa orang yang mengalami kesulitan dikatakan susah?
Bagaimana jika dalam kesulitannya, ia merasakan kedamaian karena itu adalah hasrat dalam dirinya?
Siapa yang tahu jika tertawa ternyata bukan dorongan atas kedamaian yang diraih?

Tidak ada yang tahu
Tidak ada yang mengerti
Damai itu ada
Kedamaian itu nyata

Jujur saja, itu semua bukan karena siapa, apa, bagaimana, mengapa, ataupun kapan
Itu semua adalah ...
(Jawablah sendiri!!!)

Rabu, 04 Juni 2014

Bimbang, resah, dan gelisah
Haaah, makanan sehari-hari
Ujian sana sini maupun keputusan hidup
Apa yang terbaik untuk diri ini?

Terbayang sudah harapan yang membahagiakan
Bisakah sampai ke sana?
Mungkin butuh usaha yang serius
Longgarkan hati dan pikiran adalah jalannya
Terbuka bagi kehidupan

Dunia nyata perlu dialami
Bukan sekedar bernapas
Tetapi perlu mencari makna
Apa sih masalahnya?

Dua dunia satu hati
Banyak pikiran satu tujuan
Satu tali banyak simpul
Satu harapan banyak jalan

Yaaah, entah mengapa hari ini rasanya galau. UAS tinggal satu matakuliah di hari Jum'at esok. Besok waktu kosong. Seharusnya sih hari ini senang karena ujian yang sulit-sulit sudah terlampaui. Tetapi entah, ada apa dengan diri ini? Rasanya seperti melayang. Jantung terus berdebar dari sore hingga malam ini. Apakah ada firasat? Ataukah akan terjadi suatu hal yang biasa disebut kabar buruk? Fiuuhh, tidak tenang. Jelas tidak tenang malam ini. Mau berbicara dengan seseorang, tetapi ada yang menahan diri ini. Tiada perasaan lain hanya jantung berdebar, agak cemas, selalu gelisah dan yang jelas tidak nyaman. Kekosongan menghampiri dan sungguh, teman saat ini hanya rokok. Tapi tumben, tiada efek, biasanya langung tenang, tetapi ini semakin membuat gelisah. Paradigma bergerak. Banyak pikiran. Ada yang tentang inilah, itulah, dan sebagainya. Tidak jelas. Rasanya tiada satupun dari kehidupan yang ada saat ini harus dipikirkan. Tapi kegelisahan terus ada. Menulis inipun dengan perasaan tegang dan jantung berdetak kencang. Ada apa? Mau matikah? Haaah, mungkin ini yang namanya mulai menerima hidup.

Minggu, 25 Mei 2014

Bersedia...Siap...Ya....elah!

26, 28, 30, 31, 2, 3, 4, 5, 6.........angka sial kayaknya. Fiuuh, UAS oh UAS. Kayaknya bakal turun nilai nih semester dua ini. Gimana ya? Belajar banyak capek, belajar sedikit rusak nilai, gak belajar, ahahaha, gw banget. Ya, ya, ya. Target? Gak ada, yang penting cepet selesai deh. Setelah UAS nanti rasanya bakal bebas banget, bebas sebebas-bebasnya. Mungkin? Tapi yang jelas hadepin UAS aja deh. Tanggal favorit yang ditunggu ya 17 Juni. Fiuuh, mumpung hari minggu sehari sebelum UAS, ngelancong dulu ah keliling kota Malang. Males di kamar doang, buku terus ketemunya. Oh ya, rasanya gw....ah sudahlah, saatnya makan enak aja hehe. Cari bakso malang, ngerokok ampe puas, pulang belajar sekenanya dan semampunya biar otak gak soek, besok mulai UAS, nilai gak penting, yang penting liburnya itu ahahaha. Okey, saatnya berperang dengan soal-soal antah berantah. Good Luck for myself!

Minggu, 27 April 2014

Sedikit Pemikiran

Berjalan ke depan
Bukan ke belakang
Dunia terasa kecil
Apabila memandang ke belakang
Tetapi yang di belakang selalu saja memberi dampak
Tidak yang inilah, tidak yang itulah
Apa sih maunya?

Terkadang pilihan terasa menyulitkan
Terkadang jujurpun membosankan
Terkadang berdiam pun menjenuhkan
Tapi kenapa rotasi hidup seperti itu?

Yup,
Sulit jika terus berpikir
Sakit bila terus merasa
Perlu adanya keheningan
Bukan sekedar diam
Melainkan bertemu Tuhan

Berani mengambil keputusan
Takut menghadapi tantangan
Bukankah ini kebodohan?

Mau membuka mulut
Tapi menutup mata
Bukankah ini kemunafikan?

Yah,
Tidak perlu memahami segalanya
Hanya perlu sadar
Sadar akan diri sendiri
Kenapa gak jalan di jalan yang ada di depan mata?
Kenapa harus melihat kanan kiri?

Ubah diri, sulit
Ubah sikap, berat
Ubah hati, beban
Ubah pikiran, wah jangan, nanti jadi kepikiran ahahaha

Ya, perlu adanya pembaharuan.
Bukan berarti meninggalkan ataupun melepas begitu saja
Harus ada daya yang mendorong untuk menjadi lebih baik

Tidak salah jalan dalam kesakitan
Tidak salah jalan di jalan yang berakhir buntu
Karena jalanan terus ada
Mau putar arah kek
Mau mutar-mutar di tempat kek
Yang penting pilihan pribadi

Siapa yang bisa merubah diri selain diri sendiri?

(Untuk kakak kelas dan kawan yang sedang terpaku akan masalahnya....KEEP MOVE ON!)

Rabu, 23 April 2014

Jalan

Jalan Lurus

Jika seseorang mendengar kata "JALAN" atau melihat sebuah "JALAN," pasti pemikiran yang muncul adalah sebuah konsep mengenai ARAH. Mengapa begitu? Karena jalan selalu memberi arah kepada seseorang untuk mencapai tujuan. Manusia selalu memiliki keinginan atau harapan. Jalan adalah sarana untuk menggapai hal tersebut. Bagaiman dengan gambar di atas? Menarik bukan? Ada beberapa hal yang bisa kita refleksikan selain mengenai arah, karena secara umum, jalan itu menuju suatu arah.

Pertama, bagaimana dengan arah jalan tersebut, luruskah atau bercabangkah? Banyak orang yang mengaitkan jalan antara itu lurus atau bercabang. Jika kita satukan ke dalam kehidupan kita, jalan yang kita tempuh ini pasti tidak selalu lurus, bahkan selalu bercabang, atau mungkin bingung antara mau lurus atau belok. Apabila perjalanan kita lurus, maka cepat sampai. Tapi, bila kita mengikuti cabang yang ada, memang kita akan sampai pada suatu tempat, tetapi tempat itu bukanlah tempat yang kita tuju atau yang ingin kita capai. Maka, seperti apakah jalan hidup yang kita miliki?

Kedua, lihat situasi jalan tersebut. Ramai atau sepi seperti gambar di atas? Jika seperti gambar di atas, kita akan mudah sampai karena tiada halangan. Tetapi bila jalan yang kita tempuh tiada halangan, seperti apa hidup kita ini? Bisa dikatakan hal ini terdapat dalam diri orang yang manja. Tapi bisa juga dimiliki orang yang positif, karena jalan yang sepi ini berarti ia telah mempersiapkan segala sesuatu yang terbaik dan tercepat bagi dirinya agar sampai pada tujuan dan meraih apa yang diharapkan. Ada juga jalan yang ramai. Ramai identik dengan lambat. Ya, jalan yang ramai memperlambat kita sampai pada tujuan. Tetapi, bisa juga jalan yang ramai memberikan pembelajaran bagi kita akan keberagaman dan persatuan dengan apa yang ada di sekeliling kita. Di sini tergantung kita memandang keramaian seperti apa, menghambat atau memberi warna hidup baru?

Ketiga, jangan lupa bahwa jalan adalah sarana. Sarana untuk mencapai tujuan kita. Bukan berarti kita menyepelekan jalan, karena dengan memiliki jalan, entah itu baik, buruk, pemandangan bagus atau tidak, bercabang atau lain-lain, kita akan meraih tujuan kita. Coba tanpa jalan. Mau dibawa ke mana hidup ini?

Ya, mungkin saya hanya bisa menemukan ketiga refleksi singkat ini. Lebih baik setiap pribadi memiliki pandangan tersendiri mengenai jalan. Selain ketiga hal tersebut, saya masih memiliki refleksi pribadi dari dalam diri saya sendiri mengenai jalan. Jalan itu bagaikan hidup. Hidup yang kita jalani merupakan jalan. Mengapa saya katakan jalan? Saya memandang bahwa kita hidup di dunia ini adalah jalan utama menuju arah yang satu, yaitu TUHAN. Nah, karena tujuan yang satu itu, kita ini memiliki beragam keunikan dalam menjalaninya, sehingga jalan yang kita raih itu tidak pernah sama. Ada yang menyilang, menyamping, lurus, berbelok, dan lainnya. Ini adalah bukti bahwa di jalan yang utama, masih ada jalan lain yang membawa kita pada tujuan itu. Mungkin ada kaitannya dengan peribahasa "Banyak jalan menuju ke Roma." Inilah yang saya rasa sebagai suatu tujuan yang satu, tetapi beragam jalan yang kita raih. Hehehe, mungkin ini dulu. Thanks!

JALAN
ARAH
BERCABANG
RAMAI
TUJUAN
"Itulah Jalan" 



(Foto dari: Theofila Riviena)

Selasa, 22 April 2014

Vampir

Rasanya aku seperti seorang vampir. Diriku ini amat senang dengan suasana malam. Indah, terang, dan nyaman. Ya, aku peminum darah. Darah kebebasan, bukan darah manusia. Mengapa? Aku tidak akan bisa merasakan matahari jika aku meminum darah manusia. Aku hanya meminum darah kebebasan. Tetapi, mengapa banyak manusia yang menghindar dariku?

Jelas aku vampir. Begitu menakutkan. Tiada seorang pun yang berani dekat denganku. Hanya, ketika aku diam, mereka tidak tahu, baru mereka berani dekat denganku. Aku termasuk sosok yang dingin. Bukan karena peminum darah, tetapi karena aku vampir bersosok manusia. Punya hati, jantung, otak, dan yang berbeda hanya asupan nutrisi yang kuterima. Aku haus darah. Tapi bukan darah manusia. Aku punya hati terhadap manusia. Aku tidak akan mengusik mereka. Akupun hanya diam.

Aku hidup bersama manusia biasa. Aku tahu bahwa masih banyak vampir lain yang hidup selain aku. Tapi, itulah yang mereka gunakan. Diam, tak memberi tahu jati dirinya. Manusia biasa pun tak tahu mereka ada di sekelilingnya. Setidaknya, ini membuktikan kedamaian antara kaum manusia vampir dengan manusia biasa. Dan, tiada satu surat kabarpun yang menulis tentang manusia yang digigit vampir. Hingga peristiwa itu terjadi. Peristiwa yang mengecewakanku sebagai vampir.

Seorang manusia mati tergeletak di pinggir jalan. Ia dinyatakan tewas setelah digigit vampir. Manusia pun mulai ketakutan. Aku terancam. Manusia mulai untuk membasmi kaumku. Aku tidak kuasa untuk menampilkan diriku di hadapan umum. Jika aku keluar, aku akan dicemoohi dan dilempari. Aku bagaikan monster di mata mereka. Tidak, bukan aku saja, tapi kaumku. Mereka tidak paham. Mereka hanya takut. Dan saat itu, jelas aku dicap sebagai penyembah dewa kalelawar, bukan kupu-kupu. Sekali lagi, aku terancam.

Aku ingin pindah dan menetap di suatu tempat yang tak ada manusia. Tapi aku merasa percuma. semua itu percuma. Aku tetaplah dicap sebagai monster pembunuh. Haus darah! Padahal, aku tidak meminum darah manusia. Ya, rasanya tiada harapan hidup. Aku ingin mati. Mati pun tidak bisa. Tetap saja ada orang yang tidak tahu identitasku dan menolongku dari beragam uji coba bunuh diri. Yah, walau vampir, aku tetap "manusia". Orang-orang yang menolongku mau menjadikanku sahabat. Memang benar, mereka mau membantuku, memperhatikanku, dan melindungiku. Aku bisa tersenyum. Aku mulai tertolong. Hingga saat itu tiba. Aku mengaku kalau aku vampir.

Mulailah gejolak hati nan pedih. Amat pedih. Bagai tertusuk pedang bermata dua. Aku ditinggal orang-orang yang baru saja menjadi sahabatku. Mereka takut! Padahal di situ, aku mengenal senyum, tertawa, kehangatan, rasa pahit, asam, asin, dan manis, serta cinta. Tapi mau bagaimana lagi? Aku penganut kalelawar penghisap darah, bukan kebebasan. Ya, karena berita itu! Berita yang menyudutkan kaumku! Lalu, apa jalan yang terbaik? Kosong. Sendiri. Sepi. Diam!

Akupun tetap berjalan. Aku menyusuri kota di malam hari. Aku melihat dunia manusia biasa. Indah, begitu banyak warna. Tak terasa, akupun bisa menangis. Aku tersedu di bawah langit malam dan jalanan yang sepi. Aku tahu aku vampir. Aku meminum darah. Darah kebebasan. Bukan darah manusia. Aku bisa hidup seperti manusia biasa. Tetapi, mengapa manusia biasa tiada yang mau memahamiku?

Peyesalan terus berlanjut. Aku kecewa akan identitasku. Aku mulai dirajut kesuraman dunia. Mengapa aku terlahir sebagai vampir? Mengapa aku selalu dianggap monster? Mengapa aku bukan penganut kupu-kupu indah di taman bunga? Mengapa mereka melihatku bagai kalelawar penghisap darah? Aku hanya bisa diam. Diam tanpa suara. Diam dengan air mata yang terus meleleh. Diam, dan terdiam.

Beritapun mulai tersebar di pagi hari. Berita hangat dan masih baru. Manusia yang tewas di berita sebelumnya, ternyata mati bukan karena vampir. Manusia mulai menangkap pembunuhnya. Ternyata manusia biasalah yang membunuhnya. Mereka membunuh dengan mengatasnamakan vampir. Mereka takut dihakimi sesamanya. Vampir menjadi kambing hitam. Diriku pun mulai tenang. Tetapi, masih banyak yang belum percaya padaku, seorang vampir peminum darah. Darah kebebasan. Mereka masih menganggapku monster.

Aku mulai panas. Aura vampir sejatiku pun mulai tampak. Aku tidak tahan akan kesalahpahaman. Akupun berdiri di hadapan semua orang, manusia biasa. Aku mengatakan semuanya di depa mereka, para manusia biasa. "Aku adalah vampir. Vampir haus darah! Darah kebebasan! Darah murni, bukan darah kotor manusia. Aku tidak membunuh manusia biasa. Manusia biasalah yang membunuh sesamanya! Aku memang monster. Monster yang sama dengan manusia. Punya hati, pemikiran, rasa, lapar, dan cinta. Tetapi aku bukan kupu-kupu. Aku tidak menghisap madu. Aku menghisap darah. Darah kebebasan, bukan darah manusia." Akupun beranjak pergi  setelah berdiri di hadapan manusia yang berjumlah jutaan. Kaumku, para vampir lain, hanya menangis terharu. Mereka pun pergi. Tinggal manusia biasa yang ada di sana. Giliran mereka terdiam. Bisu! Entah berpikir atau makin takut. Mereka mulai diam.

Pagi pun mulai merekah. Matahari mulai mencercah jiwa sepi. Akupun memberanikan diri keluar dari kegelapan. Ribuan, tidak, jutaan manusia menungguku di luar. Mereka menangis dan meminta maaf. Aku terhenyak diam. Tidak mengerti. Mereka sadar. Aku bukan pembunuh. Merekalah pembunuh. Sahabat mereka sendiri mati karena mereka hisap darahnya. Bukan aku. Aku penghisap darah. Darah kebebasan.

Akhirnya, aku bisa hidup. Hidup sebagai vampir yang berperikemanusiaan. Aku kembali hidup di antara mereka. Inilah mimpiku yang terwujud. Aku bisa bebas. Bebas seperti kupu-kupu. Aku adalah kalelawar. Kalelawar dengan kupu-kupu di dalamnya. Aku tidak takut mentari, bahkan rembulan. Aku mulai dianggap. Aku bisa merasa, mencinta, dan hidup. Aku adalah vampir. Haus akan darah kebebasan, bukan darah manusia biasa. Kini semuanya membaik. Tiada perbedaan. Sebab, aku vampir. Manusia vampir. Vampir yang kemanusiaan. Bukan manusia yang kevampiran. Ya, aku bahagia. Bebas. Tiada kesulitan. Aku mulai hidup. Hidup sebagai manusia biasa. Ini berkat darah! Darah kebebasan! Darah yang telah membawaku diam! Ya, sekali lagi, aku vampir. Vampir manusia. Dengan darah kebebasan!

Aku menakutkan
Aku menyeramkan
Aku peminum darah
Darah kebebasan
Bukan darah manusia

Vampir
Itulah aku
Aku sendiri
Walau aku seperti mereka
Manusia biasa

Aku bisa berpikir
Aku tahu keberagaman
Aku merasakan cinta

Tapi aku vampir
Vampir yang menakutkan
Tiada yang menghampiriku
Selain para sesamaku

Diam
Aku terus diam
Hingga waktunya tiba

Dunia tidak menerimaku
Hingga akhirnya mereka tahu
Aku kalelawar berhati kupu-kupu
Bisa terbang
Menghisap darah madu
Darah kebebasan
Bukan darah manusia

Ya, aku vampir
Vampir manusia
Bisa merasa
Bisa mencinta
Bisa bersama
Karena aku
JUGA MANUSIA


(Terinspirasi dari komik "Orange Marmalade")




Nikolaus P.T.

Minggu, 20 April 2014

SELAMAT PASKAH 2014

Keadaan hidup memang menarik
Kadang mencari sesuatu yang indah
kadang malah terpuruk ke dalam lubang yang paling dalam
Dunia ini tidak bisa kita terka
Apalagi hidup!

Berbeda dengan Dia
Dia tahu apa yang harus Dia buat dan apa yang harus dilakukan
Ia menyatakan siapa Dia sesungguhnya
Untuk apa Dia hidup pun telah nyata dengan kisah-Nya hari ini

Ia hidup
Ia mengajar
Ia memberikan keindahan
Ia nyata
Ia tersiksa
Ia wafat

Namun,
Ia bangkit dan menebus semua dosa manusia
Ingat! Semua umat manusia!
Tiada perbedaan, tiada diskriminasi
Ia menyerahkan seluruh hidup-Nya demi semua umat manusia

Ya,
tiada yang mampu seperti itu
Hanya Dia
Putra Tunggal Allah Bapa
Hanya Dia
YESUS KRISTUS

Selamat Paskah 2014
 Semoga kehidupan kita menjadi lebih baik berkat kebangkitan yang membahagiakan.
Damai Kristus Besertamu!

Selasa, 15 April 2014

Itukah Cinta?

Entah kelabu, kelam, atau suram
Dunia terlampau sulit 
Ketika kuterdiam
Diri ini mulai terasa sakit

Dua bola mata menoleh
Satu kehidupan mulai tertanam
Hanya air mata yang meleleh
Sesaat mentari mulai tenggelam

Sakitkah?
Ungkapku tanpa harapan
Mengoyak seluruh diri
Hatipun hancur luluh

Terasa dunia hanya berbayang
Hitam kelabu ditemani bintang
Rasanya metamorfosa mulai terlihat
Dua hati yang telah tersayat

Persepsi
Ya, persepsi adalah penghambat
Terlihat seperti berisi
Namun hanya ada bau yang menyengat

Tiada harapan tanpa hati
Tiada rasa tanpa arti
Lalu apakah makna hidup
Jika terdapat ruang yang tertutup

Dunia telah gelap
Perasaan mulai kelam
Untuk apa berharap
Bila hati tetap terdiam

Itukah harapan?
Itukah kebahagiaan?
Itukah Dunia?
Itukah Cinta?

Minggu, 13 April 2014

New Hope!

Wah, bisa dibilang tiga hari ini otak gw terangsang untuk menulis cerpen. Ini semua gara-gara kumpulan cerpen milik Dewi Lestari. Ahaha, baru baca nih, tapi menarik, amat menarik. Cerpennya mengena, dan puisi pengantar cerpennya juga masuk banget ama cerita di dalam cerpennya. Rasanya ada tantangan baru untuk menulis cerpen, tapi buat puisinya dulu. Hehehe, ternyata, gw ini hobi banget nulis. Baru sadar kalau udah banyak tulisan tercipta, tapi gak bisa diedarkan gitu aja, ahaha. Contohnya aja nih, gw buat tulisan di blog tentang secangkir kopi (tulisan sebelum postingan ini). Ini terinspirasi dengan tulisan yang ada di dalam buku rectoverso tentang cicak di dinding (ah sori gw lupa judulnya, bukunya minjem sih). Menarik! Pas gw nyuruh temen gw baca, dan ia seorang pelukis yang minjemin tuh buku ke gw, katanya puisi gw ini bikin penasaran dan gw bilang aja, puisi ini terinspirasi dengan rasa kangen gw untuk minum kopi malem-malem. Mikir apa, udah 3 minggu gak minum kopi ahaha. Tapi tantangan makin besar, apalagi katanya di kampus mau buat lomba cerpen. Gw ikut ah, soalnya waktu ospek gw juara dua cerpen dengan judul yang gw tulis di blog ini juga : kenyataan. Ahahaha, mantabs. Gw akan gunakan gaya tulis mbak Dewi Lestari dulu ah, dengan puisi secangkir kopi sebagai pengantar, tapi ceritanya belom dapet nih, musti dipikir dulu. Okelah, yang penting mulai pembaharuan dengan mencoba untuk menulis. Soalnya, tiada kisah yang bisa terlupakan begitu aja di dalam tulisan. Hmhm, menarik. Buat puisi lagi aaahhh, siapa tau ada cerita menarik nyantol trus gw jadiin cerpen ahahaha. Good Luck for me :D !

Sabtu, 12 April 2014

Secangkir Kopi

Kududuk menyendiri
Menghadap kilauan bintang di malam hari
Dunia terasa begitu indah
Namun terasa kurang di dalamnya

Kumerasa rindu
Keadaan yang biasa tersaji
Hidangan yang menyendiri
Tapi selalu berarti

Kuingat rasa di dalammu
Kunikmati setiap aromamu yang masuk ke tubuhku
Keindahan alam bawah sadar merasukkiku
Kerinduanku akan dirimu terlampau sudah

Satu teguk 
Dua teguk
Tiga teguk
Semakin nikmat rasamu mengalir dalam tubuhku

Betapa pekat warnamu
Betapa indah bayangmu
Bercahaya langitmu
Begitu sukar ditemukan

Indah,
Kunikmati malam yang indah
Kau tau kenapa
Karena kau di sisiku

Kau kuanggap teman
Teman dari beragam masalah
Kau mencairkan hati
Hati suram nan mengikis diri

Tetaplah bersamaku
Terhidanglah selalu di sampingku
Temani diriku di malam ini
Hanya engkau

"SECANGKIR KOPI"

Rabu, 09 April 2014

Hehehe

Hari ini bisa dikatakan "MENYENANGKAN!!" Ahaha, libur nasional yang membuat hati bahagia ini membawa diri gw sendiri pada keinginan untuk meraih kebebasan. Oh iya, hari ini gw ikut nyoblos yang pertama kali. Seru juga, walau kagak ada yang gw kenal siapa aja calonnya. Yup yang penting udah gw buktikan kalo gw ini warga NKRI yang baik. Oh ya, terus setelah bangun dari tidur siang, gw ketemu sama seorang romo bule, dari itali. Wooaaaw, gw gunakan kemampuan speaking gw, dan ternyata dia bisa bahasa Indonesia. Tapi giliran gw pake bahasa Indonesia dia malah pake bahasa inggris ahahaha. Setelah dia pulang, kebetulan aja waktu kosong masih tersedia, dan lama banget. Akhirnya gw ngajak temen-temen nyari tempat jual gorengan biar sambil nongkrong di sore hari. Yup, setelah patungan ternyata ada 7 orang yang jalan. Ternyata, untuk mencari gorengan bisa dikatakan hampir 4 km muter-muter gak dapet-dapet. Akhirnya sih dapet, dapet gorengan plus martabak manis, ditambah lagi dapet capeknya, tapi dapet asiknya juga. Ahaha, seneng banget hari ini. Tambah lagi malem ini nonton video bareng komunitas, nggak tau film apa, tapi yang jelas film terbaru. Dan besok, kita semua ke Surabaya. Wehehehe, jalan-jalan terus. Jadi, saatnya meraih kegembiraan lain :D. Thanks to You, God Almghty!

Kamis, 27 Maret 2014

Tulisan Lepas

F: "Gurih sekali rasanya, apaan sih ini?"
G: "Oh, itu sih namanya ikan gurami"
F: "Terus, ini kok manis?"
G: "Ini mah gudeg"
F: "Lho, yang itu kok asam, apaan sih itu?"
G: "Itu kedondong namanya"
F: "Ini yang terakhir! Kok pahit ya? Apaan sih ini?"
G: "Oalah, itu toh. Itu kan kamu ahahaha!"

Percakapan F dan G memberi suatu inspirasi bahwa terlalu banyak bertanya mengenai perasaan kepada orang ataupun merasakan apa yang ada dalam perasaan diri sendiri hanya membawa kita pada satu hal, sadar gak sih kita ini? Percuma kalo terlalu banyak nanya yang sebenernya udah ada jawabannya. Percuma tau kalo dilupain begitu. Percuma merasa tapi gak tau harus apa. Percuma kalo ngomong aku sebenernya begini tapi maunya begitu. Percuma kalo rasanya begitu gak taunya begini. Coba tenang, berpikir, dan lihat cermin. Sadarkah kita?

Jumat, 14 Maret 2014

Mungkin Surat Cinta Terakhir



Aku tahu aku bodoh
Aku tahu aku bukanlah orang baik
Aku tahu aku adalah manusia tanpa hati
Dan aku tahu jika aku terus membuatmu terus terusik

Inilah yang kusebut kebodohan
Sebenarnya aku ingin engkau tahu kalau aku masih memiliki perasaan padamu
Tapi aku merasa diriku terus mengganggumu
Aku terus memberimu beban pikiran yang sebenarnya tidak kau inginkan

Ya,  aku memiliki perasaan itu sejak pertama kali kita bertemu
Aku tidak pernah merasakan hal itu sebelumnya
Aku bahagia ketika itu
Akupun mencoba untuk dekat denganmu walau pada akhirnya perbuatanku ini seperti membodohimu

Ketika aku tahu, ternyata kamu tidak memiliki perasaan yang sama denganku
Aku merasa sakit, sedih dan merasa tidak berguna
Aku mencoba untuk melupakan itu semua
Tetapi, semakin kulupakan semakin kuingat dirimu

Aku telah jujur
Tetapi aku merasa kamu belum sepenuhnya jujur
Tapi ini semua hanya spekulasi hati dari diriku
Agar aku bisa diterima dirimu
Tetapi, benarkah kamu jujur sepenuhnya?

Aku hanya bisa menertawakan diriku
Mengapa aku bodoh karena hingga saat inipun aku masih memiliki perasaan itu
Seandainya aku tahu cara melepas semua ini
Tetapi aku tidak mampu

Beribu-ribu cara kugunakan untuk melepasmu dari hidupku
Berjuta-juta menit aku ingin memusnahkanmu dari hidupku
Bermilyar-milyar jarak kulampaui agar aku bisa menghindar darimu
Tetapi tak terbatas apapun, dirimu tetap hadir dalam hidupku
Ribuan warna di dunia ini telah mewarnai kehidupanku
Tetapi tak ada satupun yang bisa mewarnaiku
Aku berharap itu adalah dirimu
Tetapi aku tahu, semuanya hanyalah harapan yang takkan pernah sampai

Akupun sadar, sejauh ini aku terus mengusikmu
Aku terus menghubungimu dengan pertanyaan bodoh
Aku terus membawamu dalam imaginasiku
Tetapi akulah yang terbilang amat bodoh karena tidak mau menerima kenyataan

Jika dikatakan berdosa, aku memang manusia pendosa
Apalagi jika aku mengenangmu, dosaku semakin bertambah
Alasanya adalah karena aku tidak pernah membahagiakanmu
Aku hanya parasit yang terus saja mengganggumu

Aku tidak tahu apa yang aku rasakan dan aku inginkan saat ini
Aku tidak bisa melangkah dengan baik karena kebodohan ini
Dan aku sadar bahwa aku ini terus mencari cara agar bisa menghapusmu dari ingatanku
Tetapi aku tidak bisa karena kamu terus ada di dalam bayanganku

Aku ingin melangkah menjadi lebih baik
Aku terus berusaha untuk mengubur pengalaman ini
Aku berharap agar semua tentangmu musnah dariku
Tetapi entah mengapa aku tidak bisa

Kamu telah memberi jalan untuk menjadikanku sahabatmu
Tetapi aku tidak mengindahkannya
Kamu telah memberiku perhatian
Tetapi aku selalu egois ingin mendapatkan yang lebih dari itu
Seandainya aku tahu seperti ini,
mungkin aku tidak akan pernah melakukan semua ini
Aku menyesal dan amat menyesal dalam hidupku
Mengapa aku harus mengalami ini?

Jika dikatakan ingin menangis, aku tidak bisa lagi
Jika dikatakan ingin tertawa, aku malah munafik
Jika dikatakan ingin maju, aku selalu mundur
Tetapi ketika aku ingin mati, aku selalu mengharapkan agar hal ini terjadi dengan segera

Aku tidak tahu mau bagaimana lagi terhadap perasaan ini
Aku tidak sadar lagi akan kehidupanku saat ini
Aku tertekan karena semua ini
Dan aku hanya ingin melepas semua ini

Enaknya menjadi dirimu yang bisa melupakan semua ini
Aku pasti akan bahagia jika bisa seperti kamu
Tetapi itu semua adalah harapan
Jadi, apakah makna semuanya?

Cinta, tolong pergi
Aku saat ini tidak butuh kamu
Aku membencimu cinta
Tetapi kenapa hanya cinta yang terus dipikiranku?
Kenapa aku tidak mati saja karena cinta ini?
Kenapa aku seperti masih diberi harapan olehmu?
Tolong, menjauhlah dariku!
Sekali mendengar kata yang menyebut cinta
Aku tidak pernah bisa menerimanya

Hai cinta, engkau begitu manis
Tetapi tidak untukku!
Hai cinta, engkau itu indah
Tetapi malapetaka bagiku!

Seandainya aku bisa seperti aku yang dahulu
Tidak tahu apa itu cinta dan amat membenci cinta
Mungkin saat ini aku bisa melangkah bebas

Ya, dari dulu aku tidak pernah percaya cinta
Tetapi kamu telah menghadirkan cinta itu
Aku tidak pernah menyalahkanmu
Tetapi aku menyalahkan perasaan ini

Aku bodoh
Aku hina
Aku adalah kotoran dari segala kotoran
Dan mengapa aku masih hidup?

Aku putus asa
Seandainya aku punya keberanian untuk berbicara denganmu sekali lagi
Aku hanya ingin mengatakan maaf yang sebesar-besarnya
Tetapi ketika aku mengatakan maaf,
selalu saja kamu tertawa dan bertanya mengapa aku meminta maaf

Ya,
Aku akhirnya berani mengungkapkan ini
Aku tahu bahwa tulisan ini membuatku semakin bodoh dihadapanmu
Dan aku tahu bahwa dengan ini semua, tidak mungkin kamu menjadi apa yang aku harapkan

Seandainya kamu membaca ini
Aku hanya ingin memberi tahu bahawa kamu tidak salah
Aku adalah kesalahan itu
Kamulah yang benar
Kamulah yang membuka pikiranku
Aku hanya berharap
Dengan harapan terdalam
Aku hanya mencoba untuk melepasmu
Aku ingin sepertimu yang bisa bebas melangkah
Aku ingin sepertimu yang tidak memiliki perasaan apapun padaku
Aku selalu mencoba, dan terus mencoba
Dan aku tidak akan pernah mau mencintai siapapun lagi
Mungkin, inilah surat cintaku yang tidak pernah sampai padamu!



Nb: Terima kasih atas semuanya, dengan ini, mungkin aku akan menjadi manusia yang tidak pernah mendukung cinta yang ada dalam diriku sendiri, karena cinta bagiku hanya sebuah permainan antara bahagia dan sakit, dan ini semua hanya karena aku tidak tahu apa itu cinta selain sebuah teori!


AthengIsMe

Sedikit Refleksi Tentang Hati



Apakah kita pernah bertanya kepada diri kita sendiri, mengapa kita ini perlu menggunakan hati dalam menjalani setiap kehidupan? Jika diadakan sebuah observasi, kita akan menemukan banyak jawaban mengenai pertanyaan ini, tetapi itu adalah jawaban orang lain. Ya, sesungguhnya di dalam tulisan ini saya ingin menyampaikan kesalahan saya selama ini dalam menjalani kehidupan di dunia ini, dan mungkin ini adalah dosa yang paling berat.
Hati……ya, hati. Banyak orang yang memiliki hati. Saya pribadi pasti memilikinya. Dunia ini sendiri pun memiliki banyak kata atau kalimat-kalimat yang indah mengenai hati. Tetapi bebeda dengan saya. Saya memiliki hati yang bisa dikatakan hanya saya sendiri yang bisa menguraikannya. Saya akan mengatakan bahwa hati saya  terlalu banyak diabaikan, sehingga ada celotehan :”Hati lo nggak ke pake? Jual di toko ba**s aja!” Hahaha, mungkin itu buat saya pribadi harusnya saya lakukan. Hanya ada satu hati di dalam diri ini, tetapi mengapa banyak hal yang tidak pernah saya sadari?
Oke. Sebenarnya saya memiliki masalah yang berat soal hati. Permasalahannya bukan saja karena adanya efek atau berkaitan dengan hal-hal di luar diri, tetapi lebih banyak dari dalam diri sendiri. Hati ini terasa beku, tak pernah bergetar, dan mungkin saja tidak hidup atau bergerak sama sekali. Pernahkah kita semua merasakannya? Mungkin, tetapi jika kita tidak paham berarti kita tidak sadar bahwa sesungguhnya yang namanya menggunakan hati bukan sekedar untuk merasa, melainkan juga untuk menyadari kehidupan terutama berkaitan dengan segala sesuatu yang ada di sekitar kita.
Maksudnya apa sih? Ya, saya hanya ingin mengatakan bahwa sesungguhnya hati itu memiliki daya untuk menggerakkan diri kita terutama dalam memandang apa yang ada di sekitar kita. Satu permasalahan besar mengenai hati, yakni apabila kita merasa seperti tidak memiliki hati. Ya, itulah diri saya saat ini.
Saya memiliki hati tetapi tidak menggunakannya. Mengapa? Saya sering terlarut dalam masalah yang saya bawakan pada pemikiran atau rasio belaka. Saya sadar bahwa diri saya ini perlu adanya dorongan dari hati. Jika boleh jujur, saya merasa hati saya ini terlalu banyak tertusuk masalah, terutama karena saya tidak pernah menemukan kebebasan hati untuk merasa. Bagaimana maksudnya? Ya, hati kita biasanya dapat memberikan perasaan, baik itu sedih, senang, dan lainnya. Kalau saya, berbeda. Hati saya hanya akan membawa saya pada sebuah masalah sehingga tidak pernah kunjung usai. Saya tidak tahu mengapa, mungkin karena saya tidak pernah merasa? Ahaha, rasa sih ada tetapi takut mengekspresikannya.  
Saya melihat bahwa hati saya ini terlalu banyak dilukai. Luka terbesar adalah dari diri saya sendiri. Saya sadar bahwa perasaan saya selalu saya bawa pada perasaan yang itu-itu saja. Contohnya, dalam memandang seseorang. Saya memiliki sifat men-judge orang-orang yang pernah menjadi bagian dari kehidupan. Orang tua saya bisa saya sebut sebagai masalah yang membawa diri saya pada kebencian, dendam, amarah, bahkan hingga saya seperti ini (kehilangan perasaan). Satu orang wanita yang dulu saya sukai namun pernah menolak saya sekitar 5 tahun lalu menjadi seseorang yang berperan mengisi cinta saya. Tetapi pada akhirnya, saya tahu bahwa apabila saya masih menghubunginya, saya malah membuat keresahan bagi dirinya dan saya terkesan kekanak-kanakan. Lalu beberapa orang yang menjadi angkatan saya saat ini. Saya memandang mereka seperti musuh dalam selimut. Saya kehilangan krisis kepercayaan pada mereka semua.
Jika saya lihat kembali semua itu, saya mengetahui bahwa diri saya terlalu meninggikan ego. Saya tidak bisa berkembang karena saya hanya berputar-putar pada perasaan yang itu-itu saja. Saya sadar tidak memiliki hati karena saya belum bisa melihat keadaan riil di sekitar saya. Saya tidak tahu apakah saya ini benar-benar manusia atau tidak karena tidak merasakan keberadaan manusia lain sebagai pendorong kehidupan saya. Saya kurang menyadari kebaikan yang selama ini saya terima. Saya tidak tahu akan dorongan yang sebenarnya ingin dilakukan orang-orang di sekitar saya untuk mengembangkan diri saya dan menumbuhkan perasaan-perasaan saya yang selama ini hilang.Ya, inilah kesalahan saya.
Ya, sampai sekarang saya belum bisa berdoa dengan baik karena hanya ada penyesalan yang itu-itu saja serta tidak mau melangkah dengan hati yang baru. Wajah, badan, pemikiran, dan skill boleh baru, tapi hati, benar-benar kuno. Saya sendiri merasa tertekan oleh sikap pribadi. Sekarang saya bertanya, berapa banyak kesempatan baik yang bisa menyokong hati saya telah saya buang dengan sia-sia? Saya melihat hati saya sebagai pajangan dan tidak digunakan secara tepat. Manusia macam apa saya ini.
Tapi dari sini, saya hanya ingin mengatakan pada kita semua. Hati itu bukan sekedar pajangan dalam hidup ini. Lihatlah segala sesuatu dengan hati. Makanya ada kalimat yang mengatakan “dari mata turun ke hati,” karena apa yang kita lihat haruslah kita bawa dahulu ke dalam hati kemudian kita pikirkan apa yang baik dan apa yang jahat. Kita tidak boleh men-judge orang lain maupun segala sesuatu yang kita pandang secara negatif. Kita juga tidak boleh menggunakan hati kita secara sembrono yang biasanya karena kehendak kita sendiri yang membawa malapetaka. Dan yang terpenting adalah kita harus bisa menumbuh kembangkan hati kita agar dapat melangkah kekehidupan baru yang lebih baik. Tepatnya adalah kita tidak boleh membawa perasaan yang negatif terus menerus ke dalam kehidupan kita selanjutnya. Untuk hal ini memang tidak mudah, tetapi itulah proses. Kita harus bisa “berkreasi” dengan hati kita demi menemukan kehidupan yang lebih baik.
Coba kita bertanya, sudah berapa jauhkah hati kita berkembang dalam kehidupan ini? Ya, yang jelas adalah tidak mungkin kita bisa hidup tanpa kesadaran yang utuh bila hati kita rusak karena kita sendiri yang membawanya pada kerusakan itu sendiri. Maka dari itu, bisakah kita menggunakan hati kita untuk membuka kehidupan kita yang baru? Janganlah jadikan hati kita seperti gorden jendela kamar yang tidak pernah terbuka, melainkan menjadi jendela yang siap terbuka untuk membawa udara segar masuk dalam kehidupan.