Mungkin untuk diri sendiri, baik untuk sesama, atau terbaik untuk mengungkapkan perasaan (by: nikolaus philander/emsignehta)
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 April 2014

Vampir

Rasanya aku seperti seorang vampir. Diriku ini amat senang dengan suasana malam. Indah, terang, dan nyaman. Ya, aku peminum darah. Darah kebebasan, bukan darah manusia. Mengapa? Aku tidak akan bisa merasakan matahari jika aku meminum darah manusia. Aku hanya meminum darah kebebasan. Tetapi, mengapa banyak manusia yang menghindar dariku?

Jelas aku vampir. Begitu menakutkan. Tiada seorang pun yang berani dekat denganku. Hanya, ketika aku diam, mereka tidak tahu, baru mereka berani dekat denganku. Aku termasuk sosok yang dingin. Bukan karena peminum darah, tetapi karena aku vampir bersosok manusia. Punya hati, jantung, otak, dan yang berbeda hanya asupan nutrisi yang kuterima. Aku haus darah. Tapi bukan darah manusia. Aku punya hati terhadap manusia. Aku tidak akan mengusik mereka. Akupun hanya diam.

Aku hidup bersama manusia biasa. Aku tahu bahwa masih banyak vampir lain yang hidup selain aku. Tapi, itulah yang mereka gunakan. Diam, tak memberi tahu jati dirinya. Manusia biasa pun tak tahu mereka ada di sekelilingnya. Setidaknya, ini membuktikan kedamaian antara kaum manusia vampir dengan manusia biasa. Dan, tiada satu surat kabarpun yang menulis tentang manusia yang digigit vampir. Hingga peristiwa itu terjadi. Peristiwa yang mengecewakanku sebagai vampir.

Seorang manusia mati tergeletak di pinggir jalan. Ia dinyatakan tewas setelah digigit vampir. Manusia pun mulai ketakutan. Aku terancam. Manusia mulai untuk membasmi kaumku. Aku tidak kuasa untuk menampilkan diriku di hadapan umum. Jika aku keluar, aku akan dicemoohi dan dilempari. Aku bagaikan monster di mata mereka. Tidak, bukan aku saja, tapi kaumku. Mereka tidak paham. Mereka hanya takut. Dan saat itu, jelas aku dicap sebagai penyembah dewa kalelawar, bukan kupu-kupu. Sekali lagi, aku terancam.

Aku ingin pindah dan menetap di suatu tempat yang tak ada manusia. Tapi aku merasa percuma. semua itu percuma. Aku tetaplah dicap sebagai monster pembunuh. Haus darah! Padahal, aku tidak meminum darah manusia. Ya, rasanya tiada harapan hidup. Aku ingin mati. Mati pun tidak bisa. Tetap saja ada orang yang tidak tahu identitasku dan menolongku dari beragam uji coba bunuh diri. Yah, walau vampir, aku tetap "manusia". Orang-orang yang menolongku mau menjadikanku sahabat. Memang benar, mereka mau membantuku, memperhatikanku, dan melindungiku. Aku bisa tersenyum. Aku mulai tertolong. Hingga saat itu tiba. Aku mengaku kalau aku vampir.

Mulailah gejolak hati nan pedih. Amat pedih. Bagai tertusuk pedang bermata dua. Aku ditinggal orang-orang yang baru saja menjadi sahabatku. Mereka takut! Padahal di situ, aku mengenal senyum, tertawa, kehangatan, rasa pahit, asam, asin, dan manis, serta cinta. Tapi mau bagaimana lagi? Aku penganut kalelawar penghisap darah, bukan kebebasan. Ya, karena berita itu! Berita yang menyudutkan kaumku! Lalu, apa jalan yang terbaik? Kosong. Sendiri. Sepi. Diam!

Akupun tetap berjalan. Aku menyusuri kota di malam hari. Aku melihat dunia manusia biasa. Indah, begitu banyak warna. Tak terasa, akupun bisa menangis. Aku tersedu di bawah langit malam dan jalanan yang sepi. Aku tahu aku vampir. Aku meminum darah. Darah kebebasan. Bukan darah manusia. Aku bisa hidup seperti manusia biasa. Tetapi, mengapa manusia biasa tiada yang mau memahamiku?

Peyesalan terus berlanjut. Aku kecewa akan identitasku. Aku mulai dirajut kesuraman dunia. Mengapa aku terlahir sebagai vampir? Mengapa aku selalu dianggap monster? Mengapa aku bukan penganut kupu-kupu indah di taman bunga? Mengapa mereka melihatku bagai kalelawar penghisap darah? Aku hanya bisa diam. Diam tanpa suara. Diam dengan air mata yang terus meleleh. Diam, dan terdiam.

Beritapun mulai tersebar di pagi hari. Berita hangat dan masih baru. Manusia yang tewas di berita sebelumnya, ternyata mati bukan karena vampir. Manusia mulai menangkap pembunuhnya. Ternyata manusia biasalah yang membunuhnya. Mereka membunuh dengan mengatasnamakan vampir. Mereka takut dihakimi sesamanya. Vampir menjadi kambing hitam. Diriku pun mulai tenang. Tetapi, masih banyak yang belum percaya padaku, seorang vampir peminum darah. Darah kebebasan. Mereka masih menganggapku monster.

Aku mulai panas. Aura vampir sejatiku pun mulai tampak. Aku tidak tahan akan kesalahpahaman. Akupun berdiri di hadapan semua orang, manusia biasa. Aku mengatakan semuanya di depa mereka, para manusia biasa. "Aku adalah vampir. Vampir haus darah! Darah kebebasan! Darah murni, bukan darah kotor manusia. Aku tidak membunuh manusia biasa. Manusia biasalah yang membunuh sesamanya! Aku memang monster. Monster yang sama dengan manusia. Punya hati, pemikiran, rasa, lapar, dan cinta. Tetapi aku bukan kupu-kupu. Aku tidak menghisap madu. Aku menghisap darah. Darah kebebasan, bukan darah manusia." Akupun beranjak pergi  setelah berdiri di hadapan manusia yang berjumlah jutaan. Kaumku, para vampir lain, hanya menangis terharu. Mereka pun pergi. Tinggal manusia biasa yang ada di sana. Giliran mereka terdiam. Bisu! Entah berpikir atau makin takut. Mereka mulai diam.

Pagi pun mulai merekah. Matahari mulai mencercah jiwa sepi. Akupun memberanikan diri keluar dari kegelapan. Ribuan, tidak, jutaan manusia menungguku di luar. Mereka menangis dan meminta maaf. Aku terhenyak diam. Tidak mengerti. Mereka sadar. Aku bukan pembunuh. Merekalah pembunuh. Sahabat mereka sendiri mati karena mereka hisap darahnya. Bukan aku. Aku penghisap darah. Darah kebebasan.

Akhirnya, aku bisa hidup. Hidup sebagai vampir yang berperikemanusiaan. Aku kembali hidup di antara mereka. Inilah mimpiku yang terwujud. Aku bisa bebas. Bebas seperti kupu-kupu. Aku adalah kalelawar. Kalelawar dengan kupu-kupu di dalamnya. Aku tidak takut mentari, bahkan rembulan. Aku mulai dianggap. Aku bisa merasa, mencinta, dan hidup. Aku adalah vampir. Haus akan darah kebebasan, bukan darah manusia biasa. Kini semuanya membaik. Tiada perbedaan. Sebab, aku vampir. Manusia vampir. Vampir yang kemanusiaan. Bukan manusia yang kevampiran. Ya, aku bahagia. Bebas. Tiada kesulitan. Aku mulai hidup. Hidup sebagai manusia biasa. Ini berkat darah! Darah kebebasan! Darah yang telah membawaku diam! Ya, sekali lagi, aku vampir. Vampir manusia. Dengan darah kebebasan!

Aku menakutkan
Aku menyeramkan
Aku peminum darah
Darah kebebasan
Bukan darah manusia

Vampir
Itulah aku
Aku sendiri
Walau aku seperti mereka
Manusia biasa

Aku bisa berpikir
Aku tahu keberagaman
Aku merasakan cinta

Tapi aku vampir
Vampir yang menakutkan
Tiada yang menghampiriku
Selain para sesamaku

Diam
Aku terus diam
Hingga waktunya tiba

Dunia tidak menerimaku
Hingga akhirnya mereka tahu
Aku kalelawar berhati kupu-kupu
Bisa terbang
Menghisap darah madu
Darah kebebasan
Bukan darah manusia

Ya, aku vampir
Vampir manusia
Bisa merasa
Bisa mencinta
Bisa bersama
Karena aku
JUGA MANUSIA


(Terinspirasi dari komik "Orange Marmalade")




Nikolaus P.T.

Rabu, 28 Agustus 2013

KENYATAAN


Kala itu aku hanya bisa terdiam. Seperti biasa, ditemani oleh cahaya bulan, sinar bintang-bintang, segelas kopi, dan sebungkus rokok. Ah, malam yang tenang. Aku hanya bisa terdiam diantara berbagai kesibukan. “Apakah diri ini baik-baik saja?” pikirku melayang.
Ya, terlihat malam ini diriku mulai terasa sepi. Keramaian di sekelilingku hanyalah sebuah alunan nada tak beraturan. Aku tidak mengerti ada apa sebenarnya dengan malam ini. Sepi merana di tengah keramaian adalah keahlianku dalam menjalani kehidupan. Hanya bulan, bintang, segelas kopi, sebungkus rokok, dan alunan melodi tak beraturan menemaniku di sini.

*****

Aku mulai menghisap sebatang rokok yang biasa kuhisap. Harganya memang murah, tetapi untuk hati kurasa mahal sekali rokok itu. Aku hanya menarik, lalu menghembuskannya. Rasanya begitu nikmat ketika tarikan asap mulai masuk ke dalam tenggorokkan dan mulai nyaman ketika asap itu kukeluarkan. Sambil berulang-ulang melakukan itu, aku berpikir dan mulai bertanya, “Mengapa diriku seperti ini?” Kulihat diriku bagaikan asap rokok yang terasa nikmat tetapi hilang begitu saja ketika dihembuskan. “Ada apa dengan diriku? Apakah aku mulai merasa bosan?”

*****

Kulihat bintang dan bulan yang bercahaya dan menemaniku. Aku sadar bahwa diriku merasa sepi, sendiri, tiada satupun yang menemani, bahkan walau di tengah keramaian aku hanya merasa diriku dijauhi oleh nada-nada minor tersebut. Aku hanya terdiam, terpaku, dan memandang langit. Kembali kuingat masa-masa lalu yang begitu memilukan hati. Betapa banyak yang membuat diriku kecewa. Entah itu kebahagiaan, entah itu cinta, entah itu emosi, dan banyak ‘entah’ yang lain. Jika seperti ini keadaannya, aku hanya bisa kecewa akan apa yang saya dapat. Sebenarnya apa yang bisa membuat aku ada di tempat ini? Aku tidak tahu menahu. Rasanya tersayat oleh ujung pisau yang baru saja diasah. Aku bingung, aku sendiri, dan kembali kuhisap rokok setelah meneguk kopi sekali. Ahh, hampa rasanya.

*****

Kembali kulihat malam yang indah. Aku hanya bertanya apakah dunia ini sungguh ciptaan Tuhan? Sebenarnya ini bodoh sekali, tetapi ketika kulihat kembali hidupku, sebenarnya tiada yang indah apalagi mengesankan. Kemunafikan, iri hati, dengki, kesombongan, kebodohan, bahkan kemalasan, menjadi warna pelangi dalam diriku. Aku tidak tahu harus menyatukan warna apalagi. Yang jelas, warna itu terus bertambah dan semakin membuat diriku bagaikan seekor bunglon yang tidak jelas harus menetap di mana agar tidak dimangsa musuh.

*****
“Fiuuh....,” kembali asap rokok kuhembuskan. Aku sadar diriku hanyalah seorang muda yang tidak mengenal dirinya sendiri. Kekosongan selalu menyergapku. Aku melihat diriku bagai seonggok kayu pinus yang tiada isinya, kosong, dan tiada harganya. Kulitnya begitu menunjukkan kekuatan dan kegagahan, tetapi di dalamnya, kosong tanpa ada isi, sendiri, dan sunyi. Apa yang harus kuperbuat. Aku tidak tahu. Lalu mengapa aku bisa hidup? Itupun aku tidak tahu.

*****

Seekor nyamuk mulai mengganggu kesendirianku. Untungnya aku terus menghembuskan asap rokok sehingga ia pergi dan tidak mau dekat denganku. Apakah hanya dengan ini aku bisa berdamai? Aku merasa tidak jelas. Jika dikatakan aku bodoh, mungkin iya, tetapi banyak yang bilang aku ini bisa diandalkan.” Aneh, diriku ini aneh. Mengapa aneh?” Akhirnya aku bertanya bagaikan seorang filsuf yang baru saja menemukan objek pertanyaan demi mendapat sebuah teori baru. “Ah, indahnya malam ini memang baiknya aku sendiri.”

*****

Pikirku mulai melayang. Aku seperti orang yang tidak punya hidup. “Sebenarnya, siapa aku ini?”
Jatuhlah pertanyaan yang harus dijawab dengan logika hidup. Aku tidak mengerti siapa diriku. Aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat selain melakukan hal yang sedang kulakukan ini. Paling tidak aku bisa merasakan hidup dan melihat indahnya dunia ini. Jika aku menemukan jawabannya, aku tidak akan tahu apa yang harus kulakukan. Ya, siapakah aku! Ada yang bisa menjawab? “Fiuuhhh......” Kuhembus kembali asap rokok yang kuhisap.

*****

Hidup adalah anugerah. “Benarkah? Apa yang bisa kuraih dari anugerah itu? Apa itu anugerah? Siapa yang memberi anugerah?” Rasanya pertanyaanku semakin menjauhkanku pada Tuhan. Inilah yang kutakutkan. Aku lupa arah hidup. Aku terjatuh ke dalam lubang kesepian akibat kekosongan batin. Jika aku melakukan suatu hal, pasti tiada arti yang memberi warna hidup. Semua terasa kosong. Apa yang membuat ini semua? Aku merasa mungkin karena semua masa lalu yang selalu suram telah menggumpal dan membentuk diriku saat ini. Ternyata tubuh ini hanyalah gumpalan masalah yang terus saja meliputi diri. “Aku harus berbuat apa? Meleburkannya? Dengan apa? Rokok inikah?”

*****

Segala kekacauan hidup ini ingin kuakhiri. Tetapi sulit. Untuk malam ini aku merasa diriku perlu diam di tempat favoritku. Ya, di atas sotoh ini. Dengan segelas kopi, sebungkus rokok, dan cahaya bulan serta bintang yang menemaniku. Aku hanya bertanya siapakah diriku ini. Aku menemukan diri yang selalu saja ditatap banyak orang yang siap untuk mengambil tubuhku dan dipotong beberapa bagian serta dijadikan makanan anjing peliharaan mereka. Diriku ini berharga hanya untukku, tidak untuk mereka. Kulihat diri yang memiliki banyak warna, namun pudar akibat masa lalu yang kacau. Lalu sebenarnya, apa yang kubutuhkan? Cinta? Ah, di dalam kamusku kata cinta hanyalah sebuah sampah yang tidak bermakna. Apakah iman? Kurasa tidak layak membicarakan iman di saat ini. Kupikir kembali dan apa ya jawabannya?

*****

Setidaknya aku mulai berusaha. Kopi di gelas sudah habis, rokokku tinggal satu batang, dan diriku? Bagai rongsokan! “Hidup, hidup, dan hidup. Coba banyangkan hidup. Sebenarnya, ada tidak ya manusia yang bisa hidup begitu saja tanpa ada masalah?” Aku sedikit tersentak dengan pertanyaan ini. Hidupku dibentuk oleh masa lalu, ingin menggapai masa depan, dan kujalani saat ini. Aku tidak sadar bahwa seharusnya aku bersyukur atas hidup ini. Ya, rasa syukurlah yang seharusnya kulakukan. Namun apakah rasa syukur saja cukup? “Tanyakan kepada diri sendiri apa itu baik!” pikirku.

*****
 Awan mulai menutup cahaya bintang dan bulan. Rokokku tinggal satu batang dan mulai kuhisap. Diriku masih sendiri dengan melodi minor dari keramaian yang ada di sekitarku. Aku mulai mengolah semua pemikiranku. Aku mainkan semuanya dan kujadikan satu lembar partitur nada yang begitu indah. Ternyata aku ini harus menatap diriku yang sekarang. Aku tidak perlu lagi melihat segala sesuatu yang menyusahkan hidupku. Untuk apa hidup jika hanya untuk dipertanyakan? Dunia begitu luas, namun tidak semuanya bisa dimasukkan dalam hidup seseorang. Dunia begitu banyak warna, tetapi tidak bisa mewarnai seluruh kehidupanku. Jadi yang mau kudapatkan adalah, tataplah dunia saat ini, sekarang ini, dan nikmatilah saat ini juga! Semuanya menjadikan diri ini lebih hidup daripada kosong sama sekali. Dunia ini hanya bisa dilihat sekali ini saja. Baik kemarin maupun besok, tidak ada yang seindah ini. Jadi hanya satu hal yang harus kusadari yakni: KENYATAAN!