Jelas aku vampir. Begitu menakutkan. Tiada seorang pun yang berani dekat denganku. Hanya, ketika aku diam, mereka tidak tahu, baru mereka berani dekat denganku. Aku termasuk sosok yang dingin. Bukan karena peminum darah, tetapi karena aku vampir bersosok manusia. Punya hati, jantung, otak, dan yang berbeda hanya asupan nutrisi yang kuterima. Aku haus darah. Tapi bukan darah manusia. Aku punya hati terhadap manusia. Aku tidak akan mengusik mereka. Akupun hanya diam.
Aku hidup bersama manusia biasa. Aku tahu bahwa masih banyak vampir lain yang hidup selain aku. Tapi, itulah yang mereka gunakan. Diam, tak memberi tahu jati dirinya. Manusia biasa pun tak tahu mereka ada di sekelilingnya. Setidaknya, ini membuktikan kedamaian antara kaum manusia vampir dengan manusia biasa. Dan, tiada satu surat kabarpun yang menulis tentang manusia yang digigit vampir. Hingga peristiwa itu terjadi. Peristiwa yang mengecewakanku sebagai vampir.
Seorang manusia mati tergeletak di pinggir jalan. Ia dinyatakan tewas setelah digigit vampir. Manusia pun mulai ketakutan. Aku terancam. Manusia mulai untuk membasmi kaumku. Aku tidak kuasa untuk menampilkan diriku di hadapan umum. Jika aku keluar, aku akan dicemoohi dan dilempari. Aku bagaikan monster di mata mereka. Tidak, bukan aku saja, tapi kaumku. Mereka tidak paham. Mereka hanya takut. Dan saat itu, jelas aku dicap sebagai penyembah dewa kalelawar, bukan kupu-kupu. Sekali lagi, aku terancam.
Aku ingin pindah dan menetap di suatu tempat yang tak ada manusia. Tapi aku merasa percuma. semua itu percuma. Aku tetaplah dicap sebagai monster pembunuh. Haus darah! Padahal, aku tidak meminum darah manusia. Ya, rasanya tiada harapan hidup. Aku ingin mati. Mati pun tidak bisa. Tetap saja ada orang yang tidak tahu identitasku dan menolongku dari beragam uji coba bunuh diri. Yah, walau vampir, aku tetap "manusia". Orang-orang yang menolongku mau menjadikanku sahabat. Memang benar, mereka mau membantuku, memperhatikanku, dan melindungiku. Aku bisa tersenyum. Aku mulai tertolong. Hingga saat itu tiba. Aku mengaku kalau aku vampir.
Mulailah gejolak hati nan pedih. Amat pedih. Bagai tertusuk pedang bermata dua. Aku ditinggal orang-orang yang baru saja menjadi sahabatku. Mereka takut! Padahal di situ, aku mengenal senyum, tertawa, kehangatan, rasa pahit, asam, asin, dan manis, serta cinta. Tapi mau bagaimana lagi? Aku penganut kalelawar penghisap darah, bukan kebebasan. Ya, karena berita itu! Berita yang menyudutkan kaumku! Lalu, apa jalan yang terbaik? Kosong. Sendiri. Sepi. Diam!
Akupun tetap berjalan. Aku menyusuri kota di malam hari. Aku melihat dunia manusia biasa. Indah, begitu banyak warna. Tak terasa, akupun bisa menangis. Aku tersedu di bawah langit malam dan jalanan yang sepi. Aku tahu aku vampir. Aku meminum darah. Darah kebebasan. Bukan darah manusia. Aku bisa hidup seperti manusia biasa. Tetapi, mengapa manusia biasa tiada yang mau memahamiku?
Peyesalan terus berlanjut. Aku kecewa akan identitasku. Aku mulai dirajut kesuraman dunia. Mengapa aku terlahir sebagai vampir? Mengapa aku selalu dianggap monster? Mengapa aku bukan penganut kupu-kupu indah di taman bunga? Mengapa mereka melihatku bagai kalelawar penghisap darah? Aku hanya bisa diam. Diam tanpa suara. Diam dengan air mata yang terus meleleh. Diam, dan terdiam.
Beritapun mulai tersebar di pagi hari. Berita hangat dan masih baru. Manusia yang tewas di berita sebelumnya, ternyata mati bukan karena vampir. Manusia mulai menangkap pembunuhnya. Ternyata manusia biasalah yang membunuhnya. Mereka membunuh dengan mengatasnamakan vampir. Mereka takut dihakimi sesamanya. Vampir menjadi kambing hitam. Diriku pun mulai tenang. Tetapi, masih banyak yang belum percaya padaku, seorang vampir peminum darah. Darah kebebasan. Mereka masih menganggapku monster.
Aku mulai panas. Aura vampir sejatiku pun mulai tampak. Aku tidak tahan akan kesalahpahaman. Akupun berdiri di hadapan semua orang, manusia biasa. Aku mengatakan semuanya di depa mereka, para manusia biasa. "Aku adalah vampir. Vampir haus darah! Darah kebebasan! Darah murni, bukan darah kotor manusia. Aku tidak membunuh manusia biasa. Manusia biasalah yang membunuh sesamanya! Aku memang monster. Monster yang sama dengan manusia. Punya hati, pemikiran, rasa, lapar, dan cinta. Tetapi aku bukan kupu-kupu. Aku tidak menghisap madu. Aku menghisap darah. Darah kebebasan, bukan darah manusia." Akupun beranjak pergi setelah berdiri di hadapan manusia yang berjumlah jutaan. Kaumku, para vampir lain, hanya menangis terharu. Mereka pun pergi. Tinggal manusia biasa yang ada di sana. Giliran mereka terdiam. Bisu! Entah berpikir atau makin takut. Mereka mulai diam.
Pagi pun mulai merekah. Matahari mulai mencercah jiwa sepi. Akupun memberanikan diri keluar dari kegelapan. Ribuan, tidak, jutaan manusia menungguku di luar. Mereka menangis dan meminta maaf. Aku terhenyak diam. Tidak mengerti. Mereka sadar. Aku bukan pembunuh. Merekalah pembunuh. Sahabat mereka sendiri mati karena mereka hisap darahnya. Bukan aku. Aku penghisap darah. Darah kebebasan.
Akhirnya, aku bisa hidup. Hidup sebagai vampir yang berperikemanusiaan. Aku kembali hidup di antara mereka. Inilah mimpiku yang terwujud. Aku bisa bebas. Bebas seperti kupu-kupu. Aku adalah kalelawar. Kalelawar dengan kupu-kupu di dalamnya. Aku tidak takut mentari, bahkan rembulan. Aku mulai dianggap. Aku bisa merasa, mencinta, dan hidup. Aku adalah vampir. Haus akan darah kebebasan, bukan darah manusia biasa. Kini semuanya membaik. Tiada perbedaan. Sebab, aku vampir. Manusia vampir. Vampir yang kemanusiaan. Bukan manusia yang kevampiran. Ya, aku bahagia. Bebas. Tiada kesulitan. Aku mulai hidup. Hidup sebagai manusia biasa. Ini berkat darah! Darah kebebasan! Darah yang telah membawaku diam! Ya, sekali lagi, aku vampir. Vampir manusia. Dengan darah kebebasan!
Aku menakutkan
Aku menyeramkan
Aku peminum darah
Darah kebebasan
Bukan darah manusia
Vampir
Itulah aku
Aku sendiri
Walau aku seperti mereka
Manusia biasa
Aku bisa berpikir
Aku tahu keberagaman
Aku merasakan cinta
Tapi aku vampir
Vampir yang menakutkan
Tiada yang menghampiriku
Selain para sesamaku
Diam
Aku terus diam
Hingga waktunya tiba
Dunia tidak menerimaku
Hingga akhirnya mereka tahu
Aku kalelawar berhati kupu-kupu
Bisa terbang
Menghisap darah madu
Darah kebebasan
Bukan darah manusia
Ya, aku vampir
Vampir manusia
Bisa merasa
Bisa mencinta
Bisa bersama
Karena aku
JUGA MANUSIA
(Terinspirasi dari komik "Orange Marmalade")
Nikolaus P.T.