Mungkin untuk diri sendiri, baik untuk sesama, atau terbaik untuk mengungkapkan perasaan (by: nikolaus philander/emsignehta)

Rabu, 23 April 2014

Jalan

Jalan Lurus

Jika seseorang mendengar kata "JALAN" atau melihat sebuah "JALAN," pasti pemikiran yang muncul adalah sebuah konsep mengenai ARAH. Mengapa begitu? Karena jalan selalu memberi arah kepada seseorang untuk mencapai tujuan. Manusia selalu memiliki keinginan atau harapan. Jalan adalah sarana untuk menggapai hal tersebut. Bagaiman dengan gambar di atas? Menarik bukan? Ada beberapa hal yang bisa kita refleksikan selain mengenai arah, karena secara umum, jalan itu menuju suatu arah.

Pertama, bagaimana dengan arah jalan tersebut, luruskah atau bercabangkah? Banyak orang yang mengaitkan jalan antara itu lurus atau bercabang. Jika kita satukan ke dalam kehidupan kita, jalan yang kita tempuh ini pasti tidak selalu lurus, bahkan selalu bercabang, atau mungkin bingung antara mau lurus atau belok. Apabila perjalanan kita lurus, maka cepat sampai. Tapi, bila kita mengikuti cabang yang ada, memang kita akan sampai pada suatu tempat, tetapi tempat itu bukanlah tempat yang kita tuju atau yang ingin kita capai. Maka, seperti apakah jalan hidup yang kita miliki?

Kedua, lihat situasi jalan tersebut. Ramai atau sepi seperti gambar di atas? Jika seperti gambar di atas, kita akan mudah sampai karena tiada halangan. Tetapi bila jalan yang kita tempuh tiada halangan, seperti apa hidup kita ini? Bisa dikatakan hal ini terdapat dalam diri orang yang manja. Tapi bisa juga dimiliki orang yang positif, karena jalan yang sepi ini berarti ia telah mempersiapkan segala sesuatu yang terbaik dan tercepat bagi dirinya agar sampai pada tujuan dan meraih apa yang diharapkan. Ada juga jalan yang ramai. Ramai identik dengan lambat. Ya, jalan yang ramai memperlambat kita sampai pada tujuan. Tetapi, bisa juga jalan yang ramai memberikan pembelajaran bagi kita akan keberagaman dan persatuan dengan apa yang ada di sekeliling kita. Di sini tergantung kita memandang keramaian seperti apa, menghambat atau memberi warna hidup baru?

Ketiga, jangan lupa bahwa jalan adalah sarana. Sarana untuk mencapai tujuan kita. Bukan berarti kita menyepelekan jalan, karena dengan memiliki jalan, entah itu baik, buruk, pemandangan bagus atau tidak, bercabang atau lain-lain, kita akan meraih tujuan kita. Coba tanpa jalan. Mau dibawa ke mana hidup ini?

Ya, mungkin saya hanya bisa menemukan ketiga refleksi singkat ini. Lebih baik setiap pribadi memiliki pandangan tersendiri mengenai jalan. Selain ketiga hal tersebut, saya masih memiliki refleksi pribadi dari dalam diri saya sendiri mengenai jalan. Jalan itu bagaikan hidup. Hidup yang kita jalani merupakan jalan. Mengapa saya katakan jalan? Saya memandang bahwa kita hidup di dunia ini adalah jalan utama menuju arah yang satu, yaitu TUHAN. Nah, karena tujuan yang satu itu, kita ini memiliki beragam keunikan dalam menjalaninya, sehingga jalan yang kita raih itu tidak pernah sama. Ada yang menyilang, menyamping, lurus, berbelok, dan lainnya. Ini adalah bukti bahwa di jalan yang utama, masih ada jalan lain yang membawa kita pada tujuan itu. Mungkin ada kaitannya dengan peribahasa "Banyak jalan menuju ke Roma." Inilah yang saya rasa sebagai suatu tujuan yang satu, tetapi beragam jalan yang kita raih. Hehehe, mungkin ini dulu. Thanks!

JALAN
ARAH
BERCABANG
RAMAI
TUJUAN
"Itulah Jalan" 



(Foto dari: Theofila Riviena)