Mungkin untuk diri sendiri, baik untuk sesama, atau terbaik untuk mengungkapkan perasaan (by: nikolaus philander/emsignehta)

Jumat, 14 Maret 2014

Sedikit Refleksi Tentang Hati



Apakah kita pernah bertanya kepada diri kita sendiri, mengapa kita ini perlu menggunakan hati dalam menjalani setiap kehidupan? Jika diadakan sebuah observasi, kita akan menemukan banyak jawaban mengenai pertanyaan ini, tetapi itu adalah jawaban orang lain. Ya, sesungguhnya di dalam tulisan ini saya ingin menyampaikan kesalahan saya selama ini dalam menjalani kehidupan di dunia ini, dan mungkin ini adalah dosa yang paling berat.
Hati……ya, hati. Banyak orang yang memiliki hati. Saya pribadi pasti memilikinya. Dunia ini sendiri pun memiliki banyak kata atau kalimat-kalimat yang indah mengenai hati. Tetapi bebeda dengan saya. Saya memiliki hati yang bisa dikatakan hanya saya sendiri yang bisa menguraikannya. Saya akan mengatakan bahwa hati saya  terlalu banyak diabaikan, sehingga ada celotehan :”Hati lo nggak ke pake? Jual di toko ba**s aja!” Hahaha, mungkin itu buat saya pribadi harusnya saya lakukan. Hanya ada satu hati di dalam diri ini, tetapi mengapa banyak hal yang tidak pernah saya sadari?
Oke. Sebenarnya saya memiliki masalah yang berat soal hati. Permasalahannya bukan saja karena adanya efek atau berkaitan dengan hal-hal di luar diri, tetapi lebih banyak dari dalam diri sendiri. Hati ini terasa beku, tak pernah bergetar, dan mungkin saja tidak hidup atau bergerak sama sekali. Pernahkah kita semua merasakannya? Mungkin, tetapi jika kita tidak paham berarti kita tidak sadar bahwa sesungguhnya yang namanya menggunakan hati bukan sekedar untuk merasa, melainkan juga untuk menyadari kehidupan terutama berkaitan dengan segala sesuatu yang ada di sekitar kita.
Maksudnya apa sih? Ya, saya hanya ingin mengatakan bahwa sesungguhnya hati itu memiliki daya untuk menggerakkan diri kita terutama dalam memandang apa yang ada di sekitar kita. Satu permasalahan besar mengenai hati, yakni apabila kita merasa seperti tidak memiliki hati. Ya, itulah diri saya saat ini.
Saya memiliki hati tetapi tidak menggunakannya. Mengapa? Saya sering terlarut dalam masalah yang saya bawakan pada pemikiran atau rasio belaka. Saya sadar bahwa diri saya ini perlu adanya dorongan dari hati. Jika boleh jujur, saya merasa hati saya ini terlalu banyak tertusuk masalah, terutama karena saya tidak pernah menemukan kebebasan hati untuk merasa. Bagaimana maksudnya? Ya, hati kita biasanya dapat memberikan perasaan, baik itu sedih, senang, dan lainnya. Kalau saya, berbeda. Hati saya hanya akan membawa saya pada sebuah masalah sehingga tidak pernah kunjung usai. Saya tidak tahu mengapa, mungkin karena saya tidak pernah merasa? Ahaha, rasa sih ada tetapi takut mengekspresikannya.  
Saya melihat bahwa hati saya ini terlalu banyak dilukai. Luka terbesar adalah dari diri saya sendiri. Saya sadar bahwa perasaan saya selalu saya bawa pada perasaan yang itu-itu saja. Contohnya, dalam memandang seseorang. Saya memiliki sifat men-judge orang-orang yang pernah menjadi bagian dari kehidupan. Orang tua saya bisa saya sebut sebagai masalah yang membawa diri saya pada kebencian, dendam, amarah, bahkan hingga saya seperti ini (kehilangan perasaan). Satu orang wanita yang dulu saya sukai namun pernah menolak saya sekitar 5 tahun lalu menjadi seseorang yang berperan mengisi cinta saya. Tetapi pada akhirnya, saya tahu bahwa apabila saya masih menghubunginya, saya malah membuat keresahan bagi dirinya dan saya terkesan kekanak-kanakan. Lalu beberapa orang yang menjadi angkatan saya saat ini. Saya memandang mereka seperti musuh dalam selimut. Saya kehilangan krisis kepercayaan pada mereka semua.
Jika saya lihat kembali semua itu, saya mengetahui bahwa diri saya terlalu meninggikan ego. Saya tidak bisa berkembang karena saya hanya berputar-putar pada perasaan yang itu-itu saja. Saya sadar tidak memiliki hati karena saya belum bisa melihat keadaan riil di sekitar saya. Saya tidak tahu apakah saya ini benar-benar manusia atau tidak karena tidak merasakan keberadaan manusia lain sebagai pendorong kehidupan saya. Saya kurang menyadari kebaikan yang selama ini saya terima. Saya tidak tahu akan dorongan yang sebenarnya ingin dilakukan orang-orang di sekitar saya untuk mengembangkan diri saya dan menumbuhkan perasaan-perasaan saya yang selama ini hilang.Ya, inilah kesalahan saya.
Ya, sampai sekarang saya belum bisa berdoa dengan baik karena hanya ada penyesalan yang itu-itu saja serta tidak mau melangkah dengan hati yang baru. Wajah, badan, pemikiran, dan skill boleh baru, tapi hati, benar-benar kuno. Saya sendiri merasa tertekan oleh sikap pribadi. Sekarang saya bertanya, berapa banyak kesempatan baik yang bisa menyokong hati saya telah saya buang dengan sia-sia? Saya melihat hati saya sebagai pajangan dan tidak digunakan secara tepat. Manusia macam apa saya ini.
Tapi dari sini, saya hanya ingin mengatakan pada kita semua. Hati itu bukan sekedar pajangan dalam hidup ini. Lihatlah segala sesuatu dengan hati. Makanya ada kalimat yang mengatakan “dari mata turun ke hati,” karena apa yang kita lihat haruslah kita bawa dahulu ke dalam hati kemudian kita pikirkan apa yang baik dan apa yang jahat. Kita tidak boleh men-judge orang lain maupun segala sesuatu yang kita pandang secara negatif. Kita juga tidak boleh menggunakan hati kita secara sembrono yang biasanya karena kehendak kita sendiri yang membawa malapetaka. Dan yang terpenting adalah kita harus bisa menumbuh kembangkan hati kita agar dapat melangkah kekehidupan baru yang lebih baik. Tepatnya adalah kita tidak boleh membawa perasaan yang negatif terus menerus ke dalam kehidupan kita selanjutnya. Untuk hal ini memang tidak mudah, tetapi itulah proses. Kita harus bisa “berkreasi” dengan hati kita demi menemukan kehidupan yang lebih baik.
Coba kita bertanya, sudah berapa jauhkah hati kita berkembang dalam kehidupan ini? Ya, yang jelas adalah tidak mungkin kita bisa hidup tanpa kesadaran yang utuh bila hati kita rusak karena kita sendiri yang membawanya pada kerusakan itu sendiri. Maka dari itu, bisakah kita menggunakan hati kita untuk membuka kehidupan kita yang baru? Janganlah jadikan hati kita seperti gorden jendela kamar yang tidak pernah terbuka, melainkan menjadi jendela yang siap terbuka untuk membawa udara segar masuk dalam kehidupan.