Apakah
kita pernah bertanya kepada diri kita sendiri, mengapa kita ini perlu
menggunakan hati dalam menjalani setiap kehidupan? Jika diadakan sebuah
observasi, kita akan menemukan banyak jawaban mengenai pertanyaan ini, tetapi
itu adalah jawaban orang lain. Ya, sesungguhnya di dalam tulisan ini saya ingin
menyampaikan kesalahan saya selama ini dalam menjalani kehidupan di dunia ini,
dan mungkin ini adalah dosa yang paling berat.
Hati……ya,
hati. Banyak orang yang memiliki hati. Saya pribadi pasti memilikinya. Dunia
ini sendiri pun memiliki banyak kata atau kalimat-kalimat yang indah mengenai
hati. Tetapi bebeda dengan saya. Saya memiliki hati yang bisa dikatakan hanya
saya sendiri yang bisa menguraikannya. Saya akan mengatakan bahwa hati saya terlalu banyak diabaikan, sehingga ada
celotehan :”Hati lo nggak ke pake? Jual di toko ba**s aja!” Hahaha, mungkin itu
buat saya pribadi harusnya saya lakukan. Hanya ada satu hati di dalam diri ini,
tetapi mengapa banyak hal yang tidak pernah saya sadari?
Oke.
Sebenarnya saya memiliki masalah yang berat soal hati. Permasalahannya bukan
saja karena adanya efek atau berkaitan dengan hal-hal di luar diri, tetapi
lebih banyak dari dalam diri sendiri. Hati ini terasa beku, tak pernah
bergetar, dan mungkin saja tidak hidup atau bergerak sama sekali. Pernahkah
kita semua merasakannya? Mungkin, tetapi jika kita tidak paham berarti kita
tidak sadar bahwa sesungguhnya yang namanya menggunakan hati bukan sekedar
untuk merasa, melainkan juga untuk menyadari kehidupan terutama berkaitan
dengan segala sesuatu yang ada di sekitar kita.
Maksudnya
apa sih? Ya, saya hanya ingin mengatakan bahwa sesungguhnya hati itu memiliki
daya untuk menggerakkan diri kita terutama dalam memandang apa yang ada di
sekitar kita. Satu permasalahan besar mengenai hati, yakni apabila kita merasa
seperti tidak memiliki hati. Ya, itulah diri saya saat ini.
Saya
memiliki hati tetapi tidak menggunakannya. Mengapa? Saya sering terlarut dalam
masalah yang saya bawakan pada pemikiran atau rasio belaka. Saya sadar bahwa
diri saya ini perlu adanya dorongan dari hati. Jika boleh jujur, saya merasa
hati saya ini terlalu banyak tertusuk masalah, terutama karena saya tidak
pernah menemukan kebebasan hati untuk merasa. Bagaimana maksudnya? Ya, hati
kita biasanya dapat memberikan perasaan, baik itu sedih, senang, dan lainnya.
Kalau saya, berbeda. Hati saya hanya akan membawa saya pada sebuah masalah sehingga
tidak pernah kunjung usai. Saya tidak tahu mengapa, mungkin karena saya tidak
pernah merasa? Ahaha, rasa sih ada tetapi takut mengekspresikannya.
Saya
melihat bahwa hati saya ini terlalu banyak dilukai. Luka terbesar adalah dari
diri saya sendiri. Saya sadar bahwa perasaan saya selalu saya bawa pada
perasaan yang itu-itu saja. Contohnya, dalam memandang seseorang. Saya memiliki
sifat men-judge orang-orang yang
pernah menjadi bagian dari kehidupan. Orang tua saya bisa saya sebut sebagai
masalah yang membawa diri saya pada kebencian, dendam, amarah, bahkan hingga
saya seperti ini (kehilangan perasaan). Satu orang wanita yang dulu saya sukai
namun pernah menolak saya sekitar 5 tahun lalu menjadi seseorang yang berperan
mengisi cinta saya. Tetapi pada akhirnya, saya tahu bahwa apabila saya masih
menghubunginya, saya malah membuat keresahan bagi dirinya dan saya terkesan
kekanak-kanakan. Lalu beberapa orang yang menjadi angkatan saya saat ini. Saya
memandang mereka seperti musuh dalam selimut. Saya kehilangan krisis
kepercayaan pada mereka semua.
Jika
saya lihat kembali semua itu, saya mengetahui bahwa diri saya terlalu meninggikan
ego. Saya tidak bisa berkembang karena saya hanya berputar-putar pada perasaan
yang itu-itu saja. Saya sadar tidak memiliki hati karena saya belum bisa
melihat keadaan riil di sekitar saya. Saya tidak tahu apakah saya ini
benar-benar manusia atau tidak karena tidak merasakan keberadaan manusia lain
sebagai pendorong kehidupan saya. Saya kurang menyadari kebaikan yang selama
ini saya terima. Saya tidak tahu akan dorongan yang sebenarnya ingin dilakukan
orang-orang di sekitar saya untuk mengembangkan diri saya dan menumbuhkan
perasaan-perasaan saya yang selama ini hilang.Ya, inilah kesalahan saya.
Ya,
sampai sekarang saya belum bisa berdoa dengan baik karena hanya ada penyesalan
yang itu-itu saja serta tidak mau melangkah dengan hati yang baru. Wajah, badan,
pemikiran, dan skill boleh baru, tapi hati, benar-benar kuno. Saya sendiri
merasa tertekan oleh sikap pribadi. Sekarang saya bertanya, berapa banyak
kesempatan baik yang bisa menyokong hati saya telah saya buang dengan sia-sia?
Saya melihat hati saya sebagai pajangan dan tidak digunakan secara tepat.
Manusia macam apa saya ini.
Tapi
dari sini, saya hanya ingin mengatakan pada kita semua. Hati itu bukan sekedar
pajangan dalam hidup ini. Lihatlah segala sesuatu dengan hati. Makanya ada
kalimat yang mengatakan “dari mata turun ke hati,” karena apa yang kita lihat
haruslah kita bawa dahulu ke dalam hati kemudian kita pikirkan apa yang baik
dan apa yang jahat. Kita tidak boleh men-judge
orang lain maupun segala sesuatu yang kita pandang secara negatif. Kita juga
tidak boleh menggunakan hati kita secara sembrono yang biasanya karena kehendak
kita sendiri yang membawa malapetaka. Dan yang terpenting adalah kita harus
bisa menumbuh kembangkan hati kita agar dapat melangkah kekehidupan baru yang
lebih baik. Tepatnya adalah kita tidak boleh membawa perasaan yang negatif
terus menerus ke dalam kehidupan kita selanjutnya. Untuk hal ini memang tidak
mudah, tetapi itulah proses. Kita harus bisa “berkreasi” dengan hati kita demi
menemukan kehidupan yang lebih baik.
Coba
kita bertanya, sudah berapa jauhkah hati kita berkembang dalam kehidupan ini? Ya,
yang jelas adalah tidak mungkin kita bisa hidup tanpa kesadaran yang utuh bila
hati kita rusak karena kita sendiri yang membawanya pada kerusakan itu sendiri.
Maka dari itu, bisakah kita menggunakan hati kita untuk membuka kehidupan kita
yang baru? Janganlah jadikan hati kita seperti gorden jendela kamar yang tidak
pernah terbuka, melainkan menjadi jendela yang siap terbuka untuk membawa udara
segar masuk dalam kehidupan.