Mungkin untuk diri sendiri, baik untuk sesama, atau terbaik untuk mengungkapkan perasaan (by: nikolaus philander/emsignehta)

Rabu, 05 Maret 2014

Sedikit Refleksi Hidup



Pernah gak sih kita ini berpikir kalau kita menyadari seluruh kehidupan kita? Atau kata lainnya, sadarkah kita? Dunia ini begitu luas, namun tidak mungkin bisa memasukkan seluruhnya ke dalam pemikiran kita. Begitu pula dengan hati kita. Kita tidak bisa memasukkan seluruh keindahan dunia ke dalam perasaan kita. Lalu, apa maksud dari ini semua? Ya, saya hanya ingin menulis mengenai kehidupan. Refleksi tentang kehidupan memang tidak bisa dipengaruhi oleh orang lain karena setiap pribadi pasti memiliki kehidupannya masing-masing. Tetapi salahkah jika seseorang dapat membantu dalam menyadari beberapa kehidupan yang belum pernah kita rasakan? Maaf jika pengantarnya terlalu tinggi, hehehe :D

Baiklah! Mula-mula mengenai kehidupan yang dapat dimengerti secara sederhana. Hidup itu dari Tuhan. Hidup itu adalah aku. Hidup itu ada pahit dan manis. Hidup adalah peziarahan karena tujuan akhir hidup ini adalah kembali pada Tuhan. Yup, ini adalah pengertian hidup paling sederhana. Tetapi bayangkan! Sesederhana inikah kehidupan kita artikan? Kita harus lebih menukik lebih dalam mengenai hidup. Hidup itu memang harus kita rasakan, kita maknai, dan kita raih atas dasar apa yang kita harapkan. Memang menjalani hidup itu bukan sekedar aku yang hidup saat ini dengan segala dunia, tetapi aku hidup karena aku memiliki masa lalu yang menjadi pelajaran untuk kehidupan saat ini, dan berguna untuk mempersiapkan kehidupan di masa yang akan datang. Kita semua yang hidup perlu merasakan indahnya pola kehidupan kita masing-masing. Contoh, mungkin di masa lalu banyak rasa sakit yang kita terima. Pastinya hari ini tidak mau dapat rasa itu lagi dong? Nah, kita menggunakan cara baru agar kehidupan lebih menyenangkan. Dan untuk keesokkan harinya, kita perlu mempersiapkan hidup baru dengan cara baru lagi. Pola kehidupan ini mau tidak mau pasti ada dan pasti kita sadari. Nah, suatu hal yang paling kompleks dalam kehidupan adalah, apakah kita sungguh-sungguh sadar dalam hidup ini?

Noi dobbiamo assolutamente conoscere il mondo in cui abitiamo e del qualle facciamo parti!

Ini adalah kalimat yang akan kita dengar ketika belajar kosmologi, artinya adalah kita harus mengenal dunia di mana kita berpijak dan di mana kita mengambil bagian di dalamnya. Dari kalimat ini saya secara pribadi sadar bahwa betapa angkuhnya manusia ketika mereka mengatakan bahwa aku sadar akan kehidupanku tetapi perilakunya atau perasaanya menciptakan keluluhlantakan dunia. Yah, sederhananya apakah manusia saat ini sungguh-sungguh menyadari kehidupannya. Coba kita rangkum suatu makna satu persatu dari permasalahan-permasalahan dalam kehidupan. Ada seseorang yang mengatakan bahwa diriku lemah, perasaanku kacau berantakan, hidupku penuh kesia-siaan, dunia terlihat suram, galau melanda terus menerus dan segala sesuatu yang negatif lainnya. Ini adalah tanda bahwa orang itu sadar akan perasaan dan pikirannya, tetapi tidak sadar akan kehidupannya. Mengapa? Saya akan menjawab dengan keras karena hidup itu tidak hanya saat ini tetapi ada juga masa depan. Memang kehidupan itu perlu disadari pertama-tama dari sebuah kenyataan yang ada. Tanpa kenyataan, kita tidak bisa berharap. Harapan itu sangatlah penting untuk mempersiapkan kehidupan di masa yang akan datang. Tetapi ada satu hal mengenai harapan yang  harus kita sadari. Jika kita terlalu berharap, lalu tiba-tiba harapan itu tidak terjadi atau gagal, pasti perasaan kita ujung-ujungnya cemas lagi, galau, dan merasa rendah lagi.

Disinilah saya ingin memasukkan kata kesadaran itu. Kesadaran akan kehidupan ini bukanlah sekedar tahu siapa diri anda secara utuh, tetapi juga tahu apa yang ada di luar diri anda. Kita memang bisa melihat segala sesuatu di luar diri kita, tetapi bisakah kita memaknainya? Misalnya, saya melihat gadis cantik atau pria tampan. Kita hanya bisa mengandai-andai kapan bisa menjadi milikku. Inilah dasar kesadaran dalam hidup bahwa hanya sekedar ingin memiliki itu merupakan keegoisan manusiawi. Kita tidak boleh melihat hidup atau menyadari hidup hanya untuk memiliki. Bagaimana dunia ini tidak dikuasai kapitalisme jika setiap manusia yang hidup hanya memiliki kesadaran semuanya hanya untuk diri sendiri?
Jadi, dari tulisan yang penuh basa-basi atau tidak jelas ini, saya hanya ingin menyampaikan bahwa dalam hidup ini kita perlu memiliki fundamen atau dasar akan kesadaran yang sesungguhnya, yakni kerendahan hati, kejujuran, perilaku adil, berpikiran bersih, ringan tangan, dan yang jelas, tidak memendam kebencian terhadap orang lain. Kita perlu menyadari apa yang harus kita perhatikan di dunia kita ini, bukan diri kita ini. Hidup ini bukan sebatas mengikuti palang penunjuk arah, misalnya kita akan sukses jika sudah lulus kuliah, kita akan sukses ketika dapat pasangan berduit, kita akan bahagia ketika bisa melupakan masa-masa kelam. Bukan itu. Hidup itu perlu disadari dengan tahukah maknanya anda ada dan diciptakan di dunia ini? Karena semua ini akan kembali kapada Tuhan, maka apa yang harus kita perbuat? Yah minimal dalam setiap kepercayaan atau agama, kita diajarkan untuk menciptakan perdamaian dengan sesama dan alam semesta. Tetapi apakah kita mau hanya hidup dalam dunia minimal? Akhir kata, sadarilah untuk apa anda hidup dari masa lalu, kemudian ada di saat ini, dan menanti masa depan!