Pernah gak sih kita ini berpikir kalau kita menyadari seluruh
kehidupan kita? Atau kata lainnya, sadarkah kita? Dunia ini begitu luas, namun
tidak mungkin bisa memasukkan seluruhnya ke dalam pemikiran kita. Begitu pula
dengan hati kita. Kita tidak bisa memasukkan seluruh keindahan dunia ke dalam
perasaan kita. Lalu, apa maksud dari ini semua? Ya, saya hanya ingin menulis
mengenai kehidupan. Refleksi tentang kehidupan memang tidak bisa dipengaruhi
oleh orang lain karena setiap pribadi pasti memiliki kehidupannya
masing-masing. Tetapi salahkah jika seseorang dapat membantu dalam menyadari
beberapa kehidupan yang belum pernah kita rasakan? Maaf jika pengantarnya
terlalu tinggi, hehehe :D
Baiklah! Mula-mula mengenai kehidupan yang dapat dimengerti secara
sederhana. Hidup itu dari Tuhan. Hidup itu adalah aku. Hidup itu ada pahit dan
manis. Hidup adalah peziarahan karena tujuan akhir hidup ini adalah kembali
pada Tuhan. Yup, ini adalah pengertian hidup paling sederhana. Tetapi
bayangkan! Sesederhana inikah kehidupan kita artikan? Kita harus lebih menukik
lebih dalam mengenai hidup. Hidup itu memang harus kita rasakan, kita maknai,
dan kita raih atas dasar apa yang kita harapkan. Memang menjalani hidup itu
bukan sekedar aku yang hidup saat ini dengan segala dunia, tetapi aku hidup
karena aku memiliki masa lalu yang menjadi pelajaran untuk kehidupan saat ini,
dan berguna untuk mempersiapkan kehidupan di masa yang akan datang. Kita semua
yang hidup perlu merasakan indahnya pola kehidupan kita masing-masing. Contoh,
mungkin di masa lalu banyak rasa sakit yang kita terima. Pastinya hari ini
tidak mau dapat rasa itu lagi dong? Nah, kita menggunakan cara baru agar
kehidupan lebih menyenangkan. Dan untuk keesokkan harinya, kita perlu
mempersiapkan hidup baru dengan cara baru lagi. Pola kehidupan ini mau tidak
mau pasti ada dan pasti kita sadari. Nah, suatu hal yang paling kompleks dalam
kehidupan adalah, apakah kita sungguh-sungguh sadar dalam hidup ini?
Noi dobbiamo assolutamente conoscere il mondo
in cui abitiamo e del qualle facciamo parti!
Ini adalah kalimat yang akan kita dengar ketika belajar kosmologi,
artinya adalah kita harus mengenal dunia di mana kita berpijak dan di mana kita
mengambil bagian di dalamnya. Dari kalimat ini saya secara pribadi sadar bahwa
betapa angkuhnya manusia ketika mereka mengatakan bahwa aku sadar akan
kehidupanku tetapi perilakunya atau perasaanya menciptakan keluluhlantakan
dunia. Yah, sederhananya apakah manusia saat ini sungguh-sungguh menyadari
kehidupannya. Coba kita rangkum suatu makna satu persatu dari
permasalahan-permasalahan dalam kehidupan. Ada seseorang yang mengatakan bahwa
diriku lemah, perasaanku kacau berantakan, hidupku penuh kesia-siaan, dunia
terlihat suram, galau melanda terus menerus dan segala sesuatu yang negatif
lainnya. Ini adalah tanda bahwa orang itu sadar akan perasaan dan pikirannya,
tetapi tidak sadar akan kehidupannya. Mengapa? Saya akan menjawab dengan keras
karena hidup itu tidak hanya saat ini tetapi ada juga masa depan. Memang
kehidupan itu perlu disadari pertama-tama dari sebuah kenyataan yang ada. Tanpa
kenyataan, kita tidak bisa berharap. Harapan itu sangatlah penting untuk
mempersiapkan kehidupan di masa yang akan datang. Tetapi ada satu hal mengenai
harapan yang harus kita sadari. Jika
kita terlalu berharap, lalu tiba-tiba harapan itu tidak terjadi atau gagal,
pasti perasaan kita ujung-ujungnya cemas lagi, galau, dan merasa rendah lagi.
Disinilah saya ingin memasukkan kata kesadaran itu. Kesadaran akan
kehidupan ini bukanlah sekedar tahu siapa diri anda secara utuh, tetapi juga
tahu apa yang ada di luar diri anda. Kita memang bisa melihat segala sesuatu di
luar diri kita, tetapi bisakah kita memaknainya? Misalnya, saya melihat gadis
cantik atau pria tampan. Kita hanya bisa mengandai-andai kapan bisa menjadi
milikku. Inilah dasar kesadaran dalam hidup bahwa hanya sekedar ingin memiliki
itu merupakan keegoisan manusiawi. Kita tidak boleh melihat hidup atau
menyadari hidup hanya untuk memiliki. Bagaimana dunia ini tidak dikuasai
kapitalisme jika setiap manusia yang hidup hanya memiliki kesadaran semuanya
hanya untuk diri sendiri?
Jadi, dari tulisan yang penuh basa-basi atau tidak jelas ini, saya
hanya ingin menyampaikan bahwa dalam hidup ini kita perlu memiliki fundamen
atau dasar akan kesadaran yang sesungguhnya, yakni kerendahan hati, kejujuran,
perilaku adil, berpikiran bersih, ringan tangan, dan yang jelas, tidak memendam
kebencian terhadap orang lain. Kita perlu menyadari apa yang harus kita
perhatikan di dunia kita ini, bukan diri kita ini. Hidup ini bukan sebatas
mengikuti palang penunjuk arah, misalnya kita akan sukses jika sudah lulus
kuliah, kita akan sukses ketika dapat pasangan berduit, kita akan bahagia
ketika bisa melupakan masa-masa kelam. Bukan itu. Hidup itu perlu disadari
dengan tahukah maknanya anda ada dan diciptakan di dunia ini? Karena semua ini
akan kembali kapada Tuhan, maka apa yang harus kita perbuat? Yah minimal dalam
setiap kepercayaan atau agama, kita diajarkan untuk menciptakan perdamaian
dengan sesama dan alam semesta. Tetapi apakah kita mau hanya hidup dalam dunia
minimal? Akhir kata, sadarilah untuk apa anda hidup dari masa lalu, kemudian
ada di saat ini, dan menanti masa depan!