Pada tanggal 29 Desember 2009, saya menuju bandara Soekarno-Hatta dan sampai pada pukul 12.oo. Untuk apa saya ke sana? Ya, saya akan menuju ke medan untuk berlibur di sana hingga tanggal 2 Januari 2010 nanti. Saya pun menaiki Batavia Air dan take off pada pukul 13.10. Saya memang sering naik kapal terbanmg sehingga selama 2 jam perjalanan saya hanya tertidur dan tidak menyangka ternyata sudah sampai di bandara Polonia, Medan pada pukul 15.15. Saya langsung mencari barang bawaan saya dan bertemu dengan tulang ( om ) dan saya lansung di bawa ke rumah opung ( nenek ) yang ada di kota medan tepatnya Krakatau Pasar tiga nomor 29. Wah, senang sekali rasanay kembali bertemu dengan opung karena saya pun membawa sesuatu kebanggan untuknya yaitu saya menjalani hidup saya sebagai seminaris. Saya merasa bahwa jalan yang saya pilih ini tidak main-main sehingga saya ingin sekali terus berada di seminari dan melanjutkan sehingga menjadi imam agar menjadi sebuah kebanggaan bagi keluarga besar saya. Saya tersadar, ternyata saya harus menyelesaikan masalah keluarga dahulu karena masalah keluarga dapat membuat hidup panggilan menurun. Ya, saya juga katanya harus pernah memiliki seorang kekasih, namun bagi saya sendiri, diri saya ini tidak cocok untuk memiliki kekasih karena saya hanya memiliki keinginan untuk tidak hanya membahagiakan satu orang namun saya membahagiakan semua orang. Jadi, untuk kekasih saya masih berpikir keras. Ya, ini semua tantangan yang diberitahukan kepada saya. Saya hanya akan menjalani hidup apa adanya sesuai kehendak Tuhan. Ya inilah yang saya dapat atas liburran saya di hari pertama di medan.
Lalu, saat saya menulis entri ini, saya sedang berada di Tebing Tinggi di mana ini adalah tempat saudara saya yang seorang anaknya juga seorang seminaris di Siantar. Wah, betapa bahagiannya bertemu seminartis apalagi saudara sendiri, kami pun bisa saling menyatu dan mau bercerita satu samalain sehingga kami sendiri memiliki komitmen untuk terus. walaupun tidak terus, kami akan mencari sesuatu yang lebih baik untuk kami dan membahagiakan keluarga besar kami. Ya, senang sekali rasanya berlibur di medan. Saya tidak tahu akan ada kejadian apalagi yang menarik di balik liburan saya ini. Saya akan terus berjalan bersama Tuhan dalam menjalani kehidupan ini.