Mungkin untuk diri sendiri, baik untuk sesama, atau terbaik untuk mengungkapkan perasaan (by: nikolaus philander/emsignehta)

Kamis, 10 Desember 2009

Mungkin ini jalanku yang sesungguhnya



Nama saya Nikolaus Philander Taliak. Saya seorang seminaris dari Seminari Menengah Wacana Bhakti. Saya mengambil program KPP untuk menjalankan kehidupan saya di seminari ini. Ya, saya adalah seorang anak yang memiliki cita-cita menjadi seorang imam SVD dan bilamana saya menjadi seorang imam, saya ingin menjalankan niat saya mengapa saya menjadi seorang imam yaitu menggembalakan umat Yesus Kristus agar berada di jalan-Nya dan membuat umat-Nya berada di dalam hidup kegembiraan dan penuh cinta.
Saat ini saya adalah seorang seminaris kelas dua yakni tahun ketiga, namun telah banyak perjalanan hidup sebagai seorang seminaris yang telah saya jalani di seminari Wacana Bhakti ini. Perjalanan saya dalam mengikuti Panggilan Kristus di seminari ini saya merasakan banyak pahit manisnya menjalani hidup panggilan dimana pada saat saya berada di Kelas Persiapan Pertama ( KPP ) saya harus membiasakan diri dan menyatu dengan lingkungan seminari, lalu kelas satu saya harus mengikuti pelajaran di SMA Gonzaga, dan di saat kelas dua saya merasakan banyaknya rintangan untuk melaju terus di jalan panggilan Tuhan.
Pada saat saya berada di Kelas Persiapan Pertama ( KPP ), saya masih merasa canggung dengan seluruh kegiatan di seminari. Saya masih polos dan mengikuti segala sesuatu yang telah diadakan di seminari. Saya belum terbiasa bangun pagi, saya belum biasa ibadat pagi atau laudes, dan saya belum terbiasa mengikuti misa pagi setiap hari. Saat tahun pertama ini pula saya benar-benar dituntut untuk menyatukan diri saya dengan seminari ini. Selama tiga bulan pertama, saya benar-benar lepas dari orang tua dan tidak dapat berkomuikasi dengan orang tua, bahkan orang luar selain orang-orang yang ada di seminari. Saya merasakan sulitnya kehidupan di seminari, tetapi pada saat hati saya merasakan kesulitan itu, saya teringat akan cita-cita saya sehingga saya menjalani hidup saya di seminari ini.
Keadaan diri saya di tahun pertama memang semakin berubah derastis dimana dalam kehidupan rohani saya mengenal bahwa tata cara ibadat doa itu banyak sekali, saya terbiasa bangun pagi, saya melakukan bacaan rohani dari kitab suci walau sebelum di seminari saya tidak pernah membaca kitab suci setiap hari, saya belajar hidup berkomunitas dan bersahabat dan saling membantu dengan angkatan dan teman-teman komunitas, saya lebih mengenal struktur gereja dan bagaimana awal mula gereja itu ada, saya mau belajar segala macam mata pelajaran yang dimana waktu saat saya di rumah saya tidak suka belajar, saya lebih mengenal banyak ordo atau tarekat dan imam diosesan, dan saya lebih mengerti tata cara liturgi yang baik. Ya, semua itu saya dapat di kelas persiapan pertama. Saya merasakan kebanggan tersendiri dalam hidup saya karena ternyata menjalankan hidup panggilan itu tidak mudah dan perjalanan saya masih panjang sehingga bekal yang telah di berikan pada tahun pertama ini menjadi pedoman dalam diri saya untuk melanjutkan ketingkat berikutnya di seminari.
Setahun berjalan dengan cepatnya dan saya lulus dengan nilai yang tidak begitu tinggi di seminari. Saya sudah masuk ke kelas satu tahun kedua dimana saya harus menjalani dua kegiatan yaitu belajar di SMA Gonzaga, dan mengikuti kegiatan harian di seminari. Di kelas satu ini saya merasakan kesulitan dan saya memiliki beberapa masalah karena saya melakukan beberapa pelanggaran di seminari. Saya merasakan bahwa di kelas satu ini begitu banyak pelajaran yang diberikan dari SMA Gonzaga sehingga nilai saya cukup banyak yang merah karena belum penjurusan shingga semua mata pelajaran IPS dan IPA harus saya hadapi dan kebetulan saya adalah anak yang nilainya terendah di angkatan saya.
Saya merasa stress dengan banyaknya pelajaran, namun kegiatan di seminari tetap saya jalani. Namun, saya melakukan cukup banyak pelanggaran di saat saya kelas satu ini. Saya melakukan banyak pelangggaran karena saya merasa bosan dengan kehidupan di seminari yang kaku dan statis. Saya melakukan pelanggaran itu lebih banyak untuk refreshing karena ingin mencari jalan baru untuk melakukan kegiatan yang tidak statis. Ya, namun saya merasakan bahwa inilah hidup panggilan. Saya tersadar bahwa saya harus mengikuti segala sesuatu yang ada di seminari.
Selain itu, hidup studi saya di kelas satu semester satu memang begitu menyakitkan karena diraport nilai saya merah 4 padahal maksimal 3 sehingga saya harus relearning dan hasilnya saya meningkatkan satu nilai pelajaran sehingga diraport nilai saya merah tiga. Namun di semester 2, saya mendapat penyakit yang dikatakan cukup marak di masayarakat saat itu, yakni demam berdarah. Saya pun sembuh seminggu sebelum ujian umum dan untungnya nilai saya meningkat namun tetap, diraport nilai saya merah tiga dan saya lulus untuk masuk ke kelas dua. ya, hidup saya di kelas satu lebih ke materi pembelajaran, panggilan saya masih tetap dan biasa-biasa saja namun niat untuk menjadi imam masih ada. Saya pun saat ini menjalani kehidupan tahun ketiga di seminari ini.
Saat ini saya menjalani kehidupan saya di seminari pada tahun yang ketiga yakni kelas dua SMA Gonzaga. Saya baru menjalankan kehidupan di kelas dua selama kurang lebih enam bulan. Saya mengambil jurusan IPS di Gonzaga dan apa yang terjadi, nilai saya semakin meningkat walaupun ada yang merah tapi meningkat lebih daripada saat kelas satu. Saya lebih kepanggilan saya saat ini dimana saya akan terus melangkah di jalan panggilan saya ini untuk lanjut ke SVD ( Serikat Sabda Allah ).
Saya senang sekali karena di kelas dua ini saya sekelas dengan teman wanita maupun laki-laik. Namun di kelas dua ini ada banyak masalah yang melanda diri ini sehingga membuat diri saya desolasi selama kurang lebh satu bulan. Pertama, orang tua saya di rumah terus bertengkar. Saya sebagai anak pertama mencoba melerai agar kehidupan harmonis dan saya sedikit demi sedikit bisa melakukan hal itu sehingga keluarga saya saat ini cukup baik walaupun diantara ayah dan ibu saya masih memiliki perasaan tidak enak, tapi yang saya pikirkan adalah adik-adik saya. Kedua, saya jatuh cinta oleh seorang gadis yang sekelas dengan saya dan saya mengucapkan bahwa saya suka padanya tapi untungnya ditolak, ya pastinya ada perasaan sakit, tapi sakit itu teratasi karena saya mengingat bahwa saya adalah seminaris dan saya akan terus melangkah di jalan panggilan Tuhan.
***********
Dari semua kehidupan yang telah saya jalani di seminari ini, saya dapat merefleksikan bahwa kehidupan di jalan panggilan itu memang tidak mudah. Saya mendapatkan banyak jalan berliku berupa segala sesuatu yang membuat saya sedih dan senang. Saya lebih banyak merasa sakit, namun rasa sakit itu hilang karena saya memiliki niat untuk terus melangkah di jalan panggilan ini. Saya tahu bahwa Allah selalu menyertai saya di seminari ini karena saya merasakan kebahagian setelah merasakan kepedihan. Saya semakin ingin untuk terus berjalan demi cita-cita saya yaitu mengembalakan umat Tuhan di dunia ini. Ya, saya adalah seseorang yang memiliki dua sisi kehidupan yakni pemuda biasa dan seminaris. Saya merasakan cinta sebagai anak muda biasa, namun saya haruslah menyebarkan cinta saya tidak hanya pada satu orang melainkan semua orang. Saya juga berefleksi bahwa seorang seminaris memiliki arti seseorang yang ingin menjadi imam atau dengan kata lain calon imam. Apalah artinya jika masuk seminari jika hanya ingin memiliki cap diri sebagai semiaris. Haruslah memiliki jiwa sebagai calon imam yang penuh semangat dalam panggilan Tuhan dan tetap berada di jalan Tuhan. Saya sekarang hidup di jalanan milik Tuhan. Menjadi seminaris tidaklah suci tetapi hati yang bisa memberikan sesuatu hal yang begitu indah untuk sesama. Saya mencoba untuk tidak membuat sesama saya sedih melainkan memberikan kegembiraan yang besar. Ya, saya harus menjadi orang memberikan kasih dan bahagia kepada semua orang. Saya tidak peduli itu semua membuat saya sakit atau tidak. Saya tidak main-main dalam menjalankan hidup panggilan. Saya ingin terus melangkah di jalan panggilan ini sehingga saya menggembalakan seluruh umat Kristus dan membawa umat Kristus ke jalan-Nya. Saya juga memilih tarekat SVD agar saya melihat keadaan umat Allah tidak hanya di Indonesia melainkan di seluruh dunia dan berusaha membawa seluruh umat di jalan Kristus. AKU INI HAMBA TUHAN, TERJADILAH PADAKU MENURUT PERKATAAN MU. Inilah pedoman saya untuk menjalankan panggilan. Saya berharap dan terus berdoa agar saya dapat melanjutkan perjalanan saya yang tidak mudah ini dan saya berharap agar Tuhan terus ada untuk melindungi diri saya dalam berjalan dan melangkah di jalan-Nya.