Mungkin untuk diri sendiri, baik untuk sesama, atau terbaik untuk mengungkapkan perasaan (by: nikolaus philander/emsignehta)

Selasa, 22 Desember 2009

Setelah Retret.......

Yap, retret panggilan, inilah yang disebut selalu setiap bulan Desember di seminariku tercinta. Mengapa ada retret panggilan? Itu semua demi melihat kembali apakah hidup panggilanku mulai serius dan meningkat atau makin menurun. Yap, banyak yang saya dapat dari retret. Saya merasakan keheningan yang begitu dalam saat retret. Keheningan itu merupakan anugerah menurutku karena dengan hening kita bisa memikirkan segala sesuatu yang akan kita hadapi di depan kita nanti. Saya menggunakan keheningan untuk berdoa. Saya mencoba untuk mendapatkan langsung dari Tuhan jawaban yang tepat untuk diri saya. Yap, jawabannya adalah saya akan terus maju dalam hidup panggilan dan saya akan terus melangkah dalam kasih Tuhan. Saya mendapatkan pemikiran bagus yakni segala sesuatu bisa berubah di depan. Ini menjadikan saya ragu, tetapi pemikiran saya ini ternyata bisa saya lawan dengan pemikiran baru yakni HIDUP ADALAH KEHENDAK TUHAN, maka kita jalani saja hidup apa adanya dan jangan berpikir segala sesuatu yang akan terjadi di depan namun lihatlah apa yang terjadi saat ini. Ya, saya senang karan bisa saat ini saya mendapatkan segala hal yang menarik untuk diri saya dalam melanggkah dalam panggilan. Ya, hidup bagaikan angkasa yang luas dimana maksudnya hidup kita ini punya makna yang dalam dan luas seperti angkasa. Seperti inilah indahnya hidup
Seluas inilah makna hidup kita jika kita menjalani hidup apa adanya.
Ini sekedar foto-foto retret:
Sebelum retret, bareng frater UU ( yang sebenarnya bukan frater)
Sebelum jalan minta perlindungan dulu dari Bunda Maria
Haus abis doa seharian
Wah, selesai retret asiknya foto bareng.........