Mungkin untuk diri sendiri, baik untuk sesama, atau terbaik untuk mengungkapkan perasaan (by: nikolaus philander/emsignehta)

Selasa, 26 Januari 2010

Cahaya Bintang

Malam itu, aku berdua dengan temanku duduk di jendela kamar sambil bercerita tentang kejadian hari itu. Aku melihat langit yang begitu gelap namun ada satu titik cahaya yang menerangi langit itu. Ya, satu bintang yang begitu cerah menerangi langit gelap itu. Aku terdiam dan mengingat kembali segala sesuatu yang telah memencarkan perasaan hati layaknya puzzle yang berantakan dan berserakan di atas lantai. Entah mengapa, malam itu aku rasanya ingin mengeluarkan air mata dan saat itu tatapanku masih ke arah bintang yang cerah itu. Aku merasa tidak berdaya, aku ingin bercerita keluh kesahku kepada temanku itu namun aku tidak bisa.
Ingin rasanya aku meraih bintang yang bersinar itu. Cahayanya yang berkilauan membuat hatiku tersentuh. Namun, apakah aku akan terus terpuruk dalam kesedihan seperti ini? Aku masih memiliki satu masalah dalam aktivitas sehari-hariku di dunia ini. Aku ingin sekali menyelesaikannya namun aku kembali bersedih dan aku melihat ke arah bintang itu lagi. Aku sangat bahagia karena aku masih ditemani sinar cahaya bintang itu.
Waktu sudah menunjukan pukul 00.00 dan aku masih memikirkan betapa bersalahnya diriku atas kejadian yang telah aku perbuat kepada orang yang menurutku telah kubuat sedih. Namun sekali lagi, cahaya bintang itu semakin benderang. Aku bersyukur karena aku masih bisa hidup dalam keluh kesah ini dan aku masih bisa bertahan dan aku ingin agar aku tetap bahagia seperti cahaya bintang yang bersinar dan menemaniku malam itu.