Pada hari Sabtu 10 April 2010, jujur saja saya menagis, takut, dan gemetar karena dipaksa untuk donor darah. Saya takut sekali dengan donor darah karena jarum suntik yang besar dan banyak darah yang diambil. Jika saya memikirkan hal itu, maka rasa takut akan muncul dalam diri ini. Entah mengapa jika hanya mengambil darah untuk cek darah atau diinfus, saya tidak takut, tapi donor darah, jangan harap saya berani. Hiiiii, jadi gemetar. Setelah pelajaran selesai, saya langsung lari dan tidur karena takut dan akhirnya saya tidak jadi donor darah. Hahaha, selamat. Saat saya bertanya kepada seorang teman, ternyata persyaratannya adalah orang yang baru kena demam berdarah tidak boleh mendonor darahnya 2 tahun setelah terkena penakit itu. Sekali lagi ternyata sikap penakut itu tidak baik karena pasti ada hal yang melepaskan kita dari rasa takut. Hahahaha, dasar penakut. Ya, dari hal ini saya belajar bahwa tidak baik untuk menjadi penakut, lebih baik jalani apa adanya dan jangan lari dari ketakutan dan seharusnya coba melawan rasa takut itu. Semoga saja saya mau mendonor darah jika ada lagi waktunya, sekalian menghilangkan rasa takut itu.
Lawanlah rasa takut dan jangan lari dari ketakutan. Jadikanlah diri sebagai pemberani dan mau menyelesaikan ketakutan dengan melawannya demi tujuan yang diharapkan.
Berakhir dari ketakutan, hari Minggu 11 April 2010, saya pergi ke kota untuk refreshing dari semua permasalahan yang sejak lama ada dan baru-baru ini muncul. Kebetulan hari ini rasanya saya ingin sendirian pergi ke suatu tempat. Ada 3 museum yang ingin saya kunjungi yakni museum Bank Mandiri, museum Bank Indonesia, dan museum Bahari. Namun saya hanya bisa ke museum BI karena museum Bank Mandiri sedang direnovasi dan museum Bahari jauh sekali sehingga tidak dapat ke sana dengan waktu cepat. Yup, sebelum masuk museum BI, saya bingung di mana pintu masuknya. Saya terus berjalan dan tidak menemukannya. Saat bertanya tukang es cendol, ternyata sudah terlewat jauh. Waduh, hehehe..... malu deh. Tapi dengan rasa PD saya terus berjalan menuju pintu masuk. Saat masuk, saya melewati tempat penitipan tas dahulu, lalu masuk untuk ambil tiket. Saat saya melihat begitu banyak orang yang ingin masuk dan ternyata itu satu rombongan, saya ikut antri dan dikira satu rombongan dengan mereka. Hahaha, saya bilang saja bahwa saya sendiri. Saat mengambil tiket, saya sudah siap dompet untuk mengeluarkan uang dan membayar, namun mbak-mbak penjaga itu bilang, "masih gratis dek", hahaaaa, maklum baru pertama kali masuk museum tersebut. Saat menulis daftar, mbak-mbak tadi nanya saya dari mana, saya jawab aja dari SMA Gonzaga, dan ternyata ia tau. Wah ternyata ada juga anak Gonzaga yang pernah ke tempat itu. Saya pun masuk dan WAAAAAAAAAAAHHH!!!!! Kata mbaknya ada permainan nagkap koin tapi koinnya ternyata video dari layar yang berjatuhan, gimana mau ditangkap kalau cuma video. Aduh, malu lagi sama pengunjung lain. Tapi saya mendapat banyak ilmu setelah masuk museum itu. Keluar dari museum, saya merasa senang dan saya ingin ke museum Bahari. Saya menuju museum Fatahillah dan saat mau bayar tiket, pengunjung sudah sumpek, tak jadi masuk deh karena ramai. Lalu ke museum wayang, saat ingin menonton permainan gamelan, ternyata penuh, keluar lagi deh. Waktu sudah menunjukkan jam 13.30. Wah, saya pun akhirnya kembali karena tidak mungkin ke museum Bahari. Ya walau begitu saya tetap senang karena bisa refreshing.
Ya, refreshing itu berguna untuk menjernihkan kembali otak dan mendukung kita untuk melakukan hal-hal yang biasa dikerjakan sehari-hari. Cobalah refreshing ke suatu tempat sendirian, pasti rasa senang dan refresh anda dapatkan dan pasti kebahagiaan muncul dan semua masalah ya, bisa dilupakan sementara. Maka refreshing itu penting.