Sudah lama tidak buat postingan di blogger. Ya, memang sudah banyak kejadian yang telah terjadi dalam hidup ini selama duduk di tingkat akhir Seminari Wacana Bhakti. Hidup ini begitu banyak warna dan jujur saja lebih banyak masalah daripada kebahagiaan, namun saya sedikit demi sedikit akan membuang segala pikiran tentang masalah. Efeknya, ternyata dengan berdoa saya berharap ayah saya tenang dan mau menyelesaikan masalah keluarga. Ya, saya yakin ini bisa selesai sebentar lagi. Namun tidak hanya masalah keluarga yang melilit dalam perasaan diri ini Ya, ada masalah yang belum selesai yakni cinta. Hahaha, kali ini di blogger ini saya hanya mencurahkan hati tentang perasaan cinta yang ada. Saya menyukai seorang wanita, tidak hanya suka melainkan bisa diilang cinta, ya, walau sudah ditolak namun masih cinta. Ya, saya orang yang melankolis. Memang sedih dan entah mengapa saya selalu memiliki perasaan untuk bersama dan dekat dengannya minimal saling bertukar cerita namun diri saya merasa malu, takut, dan entah mengapa rasanya jika bertatapan muka dengannya ada rasa putus harapan. Tetapi jika saya ada di rumah saya dan berkomunikasi dengan handphone, istilahnya komunikasi jarak jauh, saya bisa berbagi cerita dengannya bahkan sampai malam. Ya, saya sebenarnya sungguh-sungguh mencintainya, namun inilah perasaan yang saya terima. Saya menganggap ini adalah pelajaran bagi saya yang dulu saat masih "kaku", istilah untuk masih berpikir secara kanak-kanak, saya berkata dengan lantang bahwa saya tidak mau jatuh cinta apalagi sampai punya pacar. Dan saya mengatakan itu di depan teman-teman saya sampai saya diejek dan ada yang berkata bahwa saya harus menunggu apa yang akan terjadi di masa ke depannya. Sungguh, saya terkena batunya dan sampai saya masih merasakan cinta yang sungguh-sungguh bagi dirinya, apalagi saya ini seminaris kelas tiga tahun keempat yang harus memilih jalan hidup. Oke, saya buka semuannya apa yang akan saya pilih. Saya melakukan pemilihan tergantung dengan rasa cinta ini yang saya punya terhadap wanita yang menolak saya ini. Saya ingin rasanya memilih wanita itu sebagai teman jika bisa saya ingin ia mendampingi hidup saya selama hidup ini. Namun jika saya tidak bisa memilikinya, saya akan terus menjadi seorang imam dengan begitu banyak pengalaman tentang segala perasaan dan cara memecahkan masalah karena saya sudah merasakan sebagian masalah hidup. Sungguh saya mencintainya dan entah mengapa tak bisa melupakannya, namun kesalahan saya adalah jika bertemu dengannya dan saya tidak berani. Mengapa ya? Tapi jujur, saya benar-benar mencintainya. Aduh, sebenarnya mau ajak dia bicara dan menanyakan mengapa waktu itu ia menolak saya dan mencari tahu alasannya. Apa karna diriku seminaris? Jujur saja saya ini masih memiliki jiwa pemuda biasa. Sungguh, rasa ini membuat tidak konsen dan pasti nilai sejarah saya turun kemarin, entah belum lagi matematika. Aduh, bingung. Tapi saya ingat perkataan dari guru agama yang begitu bersemangat jika mengajar. Saya memang mendapat penolakan, namun itu karena adanya perbedaan rasa yang saya miliki dan rasa yang dia miliki. Orang yang ditolak bukan berarti akan mendapat penolakan selanjutnya, disini saya mengartikan bukan saya akan mencintai orang lain tetapi tetap dirinya. Saya juga tidak bisa memaksakan seseorang karena setiap orang memiliki hak yang terdapat dalam dirinya. Ya, dari sini saya mendapat penguatan bahwa saya akan tetap mencintainya, namun saya hanya mencintai dia dalam hati bukan dalam tindakan karena saya tahu saat menolak saya ia sungguh-sungguh mengucapkannya dan saya senang karena bisa merasakan apa itu cinta, ini bisa menjadi pelajaran dan saya sungguh-sungguh akan terus menjalani hidup apa adanya. Apa yang terjadi ya terjadilah. Segala sesuatu pasti ada penghalang dan dari situlah kita harus bisa melepaskan diri dari penghalang itu. Jadi, saya memang akan tetap cinta padanya mungkin sampai kapan pun namun dalam kehidupan sehari-hari dan sering bertemu dengannya, saya hanya bisa mungkin menyapa "Selamat pagi" atau "Hai", atau bahkan senyum saja, dan karena saya memiliki sedikit perasaan kecewa, paling hanya bisa berpaling muka dan berusaha menjauhinya. Ya, saatnya menjalani hidup apa adanya dengan 1 cinta pada 1 orang itu saja tiada yang lain. Hmm, mungkin saya akan hidup dengan apa adanya saja deh. Apapun yang terjadi, terjadilah segalanya dan saya siap menerima apapun. Siiip.
Demikian perasaan saya sesungguhnya karena saya bingung mau cerita ke siapa dan hanya bisa ditulis di blog ini, hitung-hitung curcol.....hahahaha.....