Mungkin untuk diri sendiri, baik untuk sesama, atau terbaik untuk mengungkapkan perasaan (by: nikolaus philander/emsignehta)

Jumat, 14 Februari 2014

WHITE CHOCOLATE, BLACK VALENTINE

Wah, judulnya kok pesimis banget yah? Ya, hari ini adalah valentine yang dibilang banyak orang sih hari kasih sayang. Saya bingung karena jika hari ini hari kasih sayang, yang lain sayangnya ke mana ya? Bukan hal ini yang ingin saya bahas. Judul ini ingin saya bawa pada keadaan Indonesia yang baru-baru ini dilanda bencana alam. Kita baru saja mendengar bahwa Gunung Kelud di Jawa Timur mengalami erupsi yang di mana begitu banyak orang yang harus diungsikan serta beberapa daerah yang terkena abu vulkanik. Apa yang membawa saya pada tulisan seperti ini?

Pagi ini saya mendapat sebatang coklat putih dari seorang wanita yang adalah umat saya. Saya merasa bingung karena tidak pernah mendapat coklat di hari valentine. Saya merasa bahwa bukan saatnya saya merasa senang karena beberapa orang yang ada di sekitar Gunung Kelud sedang berduka dan takut karena mereka harus mengungsi dari desanya. Bayangkan saja, kita menyebut hari valentine sebagai hari kasih sayang, tetapi apa yang mereka (warga sekitar gunung Kelud) dapatkan di hari kasih sayang ini? Bagi saya ini adalah ujian.

Ujian yang saya maksud di sini adalah kejadian alam seperti ini ingin mengingatkan kita akan kasih sayang kepada sesama, bahkan kepada alam semesta. Saya tidak berani mengatakan kalau bencana alam ini adalah cobaan dari Tuhan, karena yang namanya alam itu juga memiliki jiwa (hal ini dibuktikan oleh para filsuf prasokratik). Sebenarnya valentine kelam bagi orang-orang yang sampai saat ini terkena bencana alam di Indonesia adalah teguran bagi kita sebagai masyarakat untuk membantu mereka. Apa yang bisa kita berikan bagi mereka? Tidak mungkin kita memberi white chocolate mahal untuk mereka, tetapi kita bisa memberi dukungan dengan memberi apa yang mereka butuhkan untuk bertahan hidup. Jujur saja, momen black valentine ini bagi saya merupakan ujian untuk membuka hati lebih dalam apakah kita memiliki rasa sayang kepada sesama kita, atau sekedar sayang pada kekasih yang kemungkinan bisa berubah-ubah dalam kehidupan kita? Masyarakat selalu hadir di sekitar kita, kekasih tidak mungkin setiap saat. Masyarakat terus berada di berbagai kehidupan kita, sedangkan kekasih hanya mengisi satu kebutuhan kita. Dari sinilah saya mengungkapkan bahwa kehidupan kita yang penuh rasa sayang terhadap sesama perlu diwujudkan kepada sesama kita yang hingga saat ini sedang membutuhkannya. Begitu pula pada alam. Berbagai bencana yang terjadi adalah dorongan bagi kita semua yang tinggal di alam ini untuk menyayangi dengan menjaga, melindungi, dan menggunakan alam secara bijaksana serta baik adanya. Saya rasa pengalaman ini bisa memberikan suatu dorongan untuk kita semua dalam mencurahkan sayang kepada seluruh kejadian bencana alam yang terjadi akhir-akhir ini.

Yup, mungkin dengan inilah saya merefleksikan valentine untuk tahun ini. Rasa sayang itu harus diberikan kepada mereka yang menderita, bukan hanya mereka yang ada di dekat kita. Kita harus membaginya kepada siapapun dan kita harus rela memberi yang terbaik pada mereka yang seharusnya lebih kita sayangi.