Ya, postingan ini telah saya tetapkan sebagai postingan terakhir bagi seminaristangguh. Saat ini keadaan saya sedang dalam keadaan yang dapat dikatakan "sudah jatuh ketiban tangga." Mengapa? Jelas, saat ini saya bukan seorang sminaris lagi, saya bukan biarawan lagi, dan saya bukan kaum berjubah lagi terhitung dari tanggal 15 Juni 2014. Saya ditolak untuk melanjutkan kehidupan sebagai seorang biarawan yang mengikrarkan ketiga kaul. Sederhana alasannya, karena diri saya sendiri yang telah mengacaukan kehidupan saya dan tidak mencerminkan sebagai seorang biarawan. Saya memang menyesal, tetapi saya tahu bahwa ini adalah jawaban yang sebenarnya saya butuhkan. Saya bersyukur kepada Tuhan atas hal ini. Saya merasa bahwa memang inilah yang harus saya dapatkan. Namun ada satu hal yang membuat saya terganjal dalam melangkah ke kehidupan yang lebib baik.
Oke, saya adalah manusia biasa saat ini. Saya mungkin termasuk satu dari berjuta-juta orang di Indonesia yang menjadi pengangguran. Saya pun bukan mahasiswa. Status yang ada adalah lulusan SMA. Nah, hal ini bukan jadi masalah. Kembali pada diri sendiri. Saya memiliki psikologi yang kurang baik. Saya menerima ini dan saya mulai menyadari ini. Hal yang membuat saya seperti ini adalah keadaan dan kehidupan saya yang terlalu mengikat segala masalah di masa lalu. Ya, saya selalu saja terbawa akan emosi masa lampau. Ada masalah yang tidak bisa saya selesaikan hingga saat ini, dan bahkan, saat ini masalah tersebut semakin runyam dan sulit diselesaikan.
Yup, tidak baik mengisahkan kembali masalah yang ada. Saya sendiri sering mengatakan itu kepada banyak orang. Saya harus menghadapi masalah itu dan yang utama adalah masalah saat ini. Saya tahu bagaimana perasaan seorang anak yang kehilangan cita-cita ditambah keluarga yang benar-benar parah. Ibu yang mengurus segalanya, dan bapak yang memiliki istri baru tanpa diketahui satu keluarga kecuali saya sebagai anak pertamanya. Ini semua menjadi akhir yang cukup menarik bagi mantan seminaristangguh saat ini. Memang tidak mudah dan sulit, tetapi hidup adalah hidup. Apapun yang terjadi ya terjadilah. Motto seperti ini memang konyol rasanya, seperti pasrah apa adanya. Tetapi bukan itu maksudnya. Yang terjadi adalah yang terjadi, tetapi bukan berarti yang terjadi menghentikan langkah. Saya secara pribadi sedang bergulat dengan hal-hal ini. Saya pun mengakui bahwa pasrah itu ada gunanya. Tetapi bukan pasrah total, saya berusaha memperbaiki perasaan, hati, pikiran, dan emosional. Saya harus menemukan jalan keluar menjadi orang atau manusia baru. Ya, saya akan berusaha dan memperbaiki diri. Saya memiliki impian walau salah satu jalan impian itu harus berhenti. Banyak jalan menuju Roma, berarti ada banyak jalan meraih impian. Inilah yang akan saya lakukan. Tetap berjalan dan tidak boleh menyerah begitu saja. Yup, dengan kata lain, saya akan meninggalkan blog ini dan menempuh hidup baru. Terima kasih pada postingan-postingan yang telah tertulis karena semua adalah pengolahan hidup pribadi saya. Jelas ini akhir. Bukan akhir segalanya, tetapi akhir menempuh hidup baru. Thanks for everything.