Mungkin untuk diri sendiri, baik untuk sesama, atau terbaik untuk mengungkapkan perasaan (by: nikolaus philander/emsignehta)

Kamis, 20 Mei 2010

Sungguh?

Waktu itu ayah saya datang tepatnya sebelum ujian akhir sekolah ini. Saya merasa disemangati karena saya akan diberi sesuatu yang menarik apabila di rapor rata-ratanya 80, apalagi kalo 90. Waduh, saya dapat 76 aja semester satu senang sekali. Kalau 80 mungkin hebat atau hoki. Hehehehhe..... motivasi saya ikut ujian dengan baik adalah karena sebentar lagi liburan dan piala dunia. Ya, ini menjadi motivasi saya. Sungguh, hadiah yang diberikan ayah saya istilahnya memang hanya berupa uang, namun saya tidak ingin meminta uang tapi mendapat kepercayaan bahwa saya bisa mendapatkan nilai yang seperti ayah saya harapkan, sebab selama belajar di sekolah, hanya saat ini dalam hidup saya, saya mendapat nilai yang dikatakan tidak wajar karena selama ini selalu jelek. Hehehehehe, inilah bedanya. Sungguh, mendapat kepercayaan seorang ayah itu harus dengan jerih payah. Hari ini aja matematika dan PKn lewat dengan baik dan yakinlah dapat bagus, besok agama dan inggris, namun ulangan yang saya takuti adalah fak.mayornya. Huh, seungguh, harus menguatkan motivasi.