Yah, sebenarnya judul postingan ini gak terlalu gw suka, soalnya serapan sih, macam bangsa Indonesia gak punya bahasa ibu. Tapi gw gunakan jugalah biar gak ketinggalan zaman. Okay, sebenarnya gini, kata independen ini mengungkapkan sebuah kepribadian seseorang yang bebas. Gw pengen hidup bebas. Bebas dari segala macam ini itu, tiada yang terlalu mengatur langkah yang ingin gw capai. Lalu, kenapa banyak orang yang gak percaya sama gw? Padahal gw jelas-jelas ingin bebas. Mereka malah mengejek, mencemooh, main belakang, yah, tapi gw saat ini hanya bisa diam. Apakah independen yang berarti bebas atau berdiri sendiri ini selalu diidentikkan dengan diam? Sampai kapan? Seandainya gw punya senjata proton, ingin rasanya memusnahkan orang-orang yang menghalangi kebebasan gw, gak peduli mau saudara sendiri ataupun teman dekat. Rasanya dunia gw mulai diliputi keadaan yang tidak bisa diselesaikan dengan cepat. Mengapa keinginan gw selalu dihalangi banyak orang? Kenapa setiap langkah gw dibatasi oleh teman sendiri yang katanya satu angkatan satu keluarga satu komunitas? A***ng lah semuanya. Gw lebih bahagia tinggal di kamar, berteman dengan sepasang cicak dengan satu cicak muda yang selalu meminum kopi bekas yang gw seduh, tokek yang bersembunyi di balik lemari baju pun memberikan nyanyian merdu setiap malam, apalagi semut kecil yang membersihkan remah-remah snack gw yang jatuh di lantai. Beda dengan orang yang sok perhatian dengan gw di tempat ini. Bisanya menyudutkan orang, hingga gw sendiri hilang kepercayaan terhadap mereka. Salahkah jika gw bersikap independen? Salahkah kalau gw punya hidup yang beda dari yang lain? Salahkah kalau gw aneh atau suka berjalan sendiri sesukanya? Dunia luas bung, percuma kalau kita menginginkan orang lain memiliki keinginan yang sesuai dengan keinginan kita sendiri. Untung gw udah pengalaman soal begini. Namun satu hal, tiada yang boleh merasukki diri gw saat ini. Gw hanya diam dan menunggu. Apa yang diinginkan seluruh manusia yang ada di sekeliling gw terhadap pribadi atau diri gw? Gw gak tau. Gw hanya menunggu dan diam. Gw menunggu saat-saat untuk mukul orang. Mau teman kek mau saudara kek, pokoknya apa yang gw terima gw akan beri dua kali lipat. Memang kalau dipikir-pikir gw ini kaum religius dalam komunitas religius. Tapi kalau komunitas pun macam begini? Cih, ada saatnya. Ingat saja, ada saatnya! Gw belum mengutuk orang lagi! Temankah jika mendiskriminasi satu orang? Heh, gw hanya ingin mengatakan, siapakah yang akan tertawa di akhir!
Persahabatan bukan sekedar ucapan, tetapi juga pembuktian.
Dunia yang tidak menghargai kebebasan perlu ditanyakan keadaannya.
Tiada yang bisa merubah orang kecuali orang itu sendiri.
Mengatasnamakan iman? Jangan MUNAFIK! (Gw benci kata ini!)
Diam! Bukan berarti takut! Dalam diam, 1001 cara telah ditemukan untuk melancarkan serangan!
Jadi, membingungkankah saya?