Mungkin untuk diri sendiri, baik untuk sesama, atau terbaik untuk mengungkapkan perasaan (by: nikolaus philander/emsignehta)

Selasa, 14 Oktober 2014

Segenggam Pasir

Tidak menarik. Rasanya kasar dan tidak menyenangkan. Terasa menggores kulit dan bahkan membuat rasa sakit. Apa saja yang menjadi unsurnya? Bagaimana bentuk tiap butirnya. Ya, hanya pasir. Tidak tahu bentuk sesungguhnya. Hanya bisa kita mengerti jika digenggam. Benarkah pasir itu berbutir? Bukankah ia tidak bundar? Seperti apa ya butiran pasir itu? Mana kutahu? Yang jelas jika digenggam rasanya baru terlihat bentuknya. Ya, seperti hasil kepalan tangan. Segenggam pasir mungkin memberi pengertian. Ya, hanya segenggam juga yang mengerti. Bahkan yang menggenggam saja bisa tidak mengerti. Tapi, apa ya segenggam pasir itu?

Senin, 13 Oktober 2014

Samudera

Seorang anak duduk di tepi pantai dengan beragam pertanyaan dalam dirinya. Ia tidak mengerti satupun jawaban atas segala pertanyaannya itu. "Mengapa air laut asin? Apa itu gelombang? Kenapa ada pasir pantai? Sampai di mana ujung lautan?", dan masih banyak lagi. Anak itu terdiam sambil memandang lautan yang tak berujung. Ia masih berdiam diri dan merasa takjub atas apa yang ia pandangi. Karena hari mulai sore, tanpa ia minta pandangannya menuju ke arah matahari terbenam. "Inikah alam tempatku hidup? Benarkah keindahan ini?" Suatu rasa mulai memainkan peran dalam diri anak itu. Sayangnya, hanya anak itu yang tau apakah itu. Tiada seorangpun yang mengerti. Anak itu mulai bergerak perlahan dan menuju penginapannya. Ia berhasil kagum dan terpesona akan apa yang baru ia alami. Dalam dirinya terdapat sebuah potongan pengalaman baru. Ia menemukan kehidupan yang baru ia sadari. Ia hanya mengatakan betapa luas samudera. Walau itu yang dikatakannya, ia tidak mengerti apa itu samudera.

Menurut Ku....

Hanya satu hal yang kukejar
Hanya satu impian yang kucari
Tiada lain tiada bukan
Kedamaian

Apa sih Kedamaian itu?
Bagiku, itu bukan perasaan semata
Apalagi pemikiran singkat

Jelas kesulitannya tidak diragukan lagi
Tidak semua orang mampu meraihnya dengan mudah
Beragam usaha mungkin bisa dilakukan untuk mendapatkannya
Tapi apakah benar bisa utuh selamanya?

Ada yang bilang ia merasakan kedamaian ketika makan es krim
Adapun yang mengatakan ia mengalami kedamaian ketika berada dalam suasana sepi

Masih banyak lagi...
Semua seperti hati benar-benar meraih kedamaian
Tapi, benarkah itu?
Apakah semudah itu?

Apa arti hidup jika begitu?
Bukankan kedamaian itu hidup?
Mengapa orang yang mengalami kesulitan dikatakan susah?
Bagaimana jika dalam kesulitannya, ia merasakan kedamaian karena itu adalah hasrat dalam dirinya?
Siapa yang tahu jika tertawa ternyata bukan dorongan atas kedamaian yang diraih?

Tidak ada yang tahu
Tidak ada yang mengerti
Damai itu ada
Kedamaian itu nyata

Jujur saja, itu semua bukan karena siapa, apa, bagaimana, mengapa, ataupun kapan
Itu semua adalah ...
(Jawablah sendiri!!!)

Rabu, 16 Juli 2014

Akhir?? Bukan!! Tapi Hidup Baru!!

Ya, postingan ini telah saya tetapkan sebagai postingan terakhir bagi seminaristangguh. Saat ini keadaan saya sedang dalam keadaan yang dapat dikatakan "sudah jatuh ketiban tangga." Mengapa? Jelas, saat ini saya bukan seorang sminaris lagi, saya bukan biarawan lagi, dan saya bukan kaum berjubah lagi terhitung dari tanggal 15 Juni 2014. Saya ditolak untuk melanjutkan kehidupan sebagai seorang biarawan yang mengikrarkan ketiga kaul. Sederhana alasannya, karena diri saya sendiri yang telah mengacaukan kehidupan saya dan tidak mencerminkan sebagai seorang biarawan. Saya memang menyesal, tetapi saya tahu bahwa ini adalah jawaban yang sebenarnya saya butuhkan. Saya bersyukur kepada Tuhan atas hal ini. Saya merasa bahwa memang inilah yang harus saya dapatkan. Namun ada satu hal yang membuat saya terganjal dalam melangkah ke kehidupan yang lebib baik.

Oke, saya adalah manusia biasa saat ini. Saya mungkin termasuk satu dari berjuta-juta orang di Indonesia yang menjadi pengangguran. Saya pun bukan mahasiswa. Status yang ada adalah lulusan SMA. Nah, hal ini bukan jadi masalah. Kembali pada diri sendiri. Saya memiliki psikologi yang kurang baik. Saya menerima ini dan saya mulai menyadari ini. Hal yang membuat saya seperti ini adalah keadaan dan kehidupan saya yang terlalu mengikat segala masalah di masa lalu. Ya, saya selalu saja terbawa akan emosi masa lampau. Ada masalah yang tidak bisa saya selesaikan hingga saat ini, dan bahkan, saat ini masalah tersebut semakin runyam dan sulit diselesaikan.

Yup, tidak baik mengisahkan kembali masalah yang ada. Saya sendiri sering mengatakan itu kepada banyak orang. Saya harus menghadapi masalah itu dan yang utama adalah masalah saat ini. Saya tahu bagaimana perasaan seorang anak yang kehilangan cita-cita ditambah keluarga yang benar-benar parah. Ibu yang mengurus segalanya, dan bapak yang memiliki istri baru tanpa diketahui satu keluarga kecuali saya sebagai anak pertamanya. Ini semua menjadi akhir yang cukup menarik bagi mantan seminaristangguh saat ini. Memang tidak mudah dan sulit, tetapi hidup adalah hidup. Apapun yang terjadi ya terjadilah. Motto seperti ini memang konyol rasanya, seperti pasrah apa adanya. Tetapi bukan itu maksudnya. Yang terjadi adalah yang terjadi, tetapi bukan berarti yang terjadi menghentikan langkah. Saya secara pribadi sedang bergulat dengan hal-hal ini. Saya pun mengakui bahwa pasrah itu ada gunanya. Tetapi bukan pasrah total, saya berusaha memperbaiki perasaan, hati, pikiran, dan emosional. Saya harus menemukan jalan keluar menjadi orang atau manusia baru. Ya, saya akan berusaha dan memperbaiki diri. Saya memiliki impian walau salah satu jalan impian itu harus berhenti. Banyak jalan menuju Roma, berarti ada banyak jalan meraih impian. Inilah yang akan saya lakukan. Tetap berjalan dan tidak boleh menyerah begitu saja. Yup, dengan kata lain, saya akan meninggalkan blog ini dan menempuh hidup baru. Terima kasih pada postingan-postingan yang telah tertulis karena semua adalah pengolahan hidup pribadi saya. Jelas ini akhir. Bukan akhir segalanya, tetapi akhir menempuh hidup baru. Thanks for everything.

Senin, 09 Juni 2014

Kira-kira Begitu!

Mungkin orang yang dekat dengan saya bisa menyadari bahwa saya ini aneh. Mengapa? Yup, seperti ansos. Contoh, pandangan orang-orang di jalan pada saya. Ketika mereka memandang saya, mereka melihat saya seperti orang sombong, tidak mau noleh, apalagi menatap matanya. Saat berjumpa dengan teman-teman kampus, ada yang mengatakan saya ini cuek. Memang, tetapi bukan berarti tidak memperhatikan sekitar, hanya saat ini bukan waktu yang tepat untuk terlibat lebih dalam. Teman-teman komunitas pun mengatakan saya ini kurang gaul, tidak terbuka, dan sulit untuk berinteraksi.Sebenarnya tidak. Semua antisosial yang saya lakukan bukan karena saya seperti itu. Saya tidak membenci siapapun. Tetapi saya membenci pengalaman saya. Saya takut. Saya tidak berani. Saya tidak mau terlalu dekat dengan siapapun. Inilah pilihan terbaik. Terlalu dekat bisa menyebabkan kesedihan, terlalu jauh menyebabkan rasa rindu. Tiada satupun bentuk hidup sosial yang terlalu masuk maupun terlalu mengambil jarak. Semua dilakukan sesuai dengan situasi, kondisi, tuntutan, dan harapan yang ada. Jadi, kira-kira begitu.
Kerusakkan moral
Kerusakkan hati
Kerusakkan pikiran
Kerusakkan diri
Bagaimana membenahinya?
Yang jelas tidak dalam satu hari

Rabu, 04 Juni 2014

Bimbang, resah, dan gelisah
Haaah, makanan sehari-hari
Ujian sana sini maupun keputusan hidup
Apa yang terbaik untuk diri ini?

Terbayang sudah harapan yang membahagiakan
Bisakah sampai ke sana?
Mungkin butuh usaha yang serius
Longgarkan hati dan pikiran adalah jalannya
Terbuka bagi kehidupan

Dunia nyata perlu dialami
Bukan sekedar bernapas
Tetapi perlu mencari makna
Apa sih masalahnya?

Dua dunia satu hati
Banyak pikiran satu tujuan
Satu tali banyak simpul
Satu harapan banyak jalan

Yaaah, entah mengapa hari ini rasanya galau. UAS tinggal satu matakuliah di hari Jum'at esok. Besok waktu kosong. Seharusnya sih hari ini senang karena ujian yang sulit-sulit sudah terlampaui. Tetapi entah, ada apa dengan diri ini? Rasanya seperti melayang. Jantung terus berdebar dari sore hingga malam ini. Apakah ada firasat? Ataukah akan terjadi suatu hal yang biasa disebut kabar buruk? Fiuuhh, tidak tenang. Jelas tidak tenang malam ini. Mau berbicara dengan seseorang, tetapi ada yang menahan diri ini. Tiada perasaan lain hanya jantung berdebar, agak cemas, selalu gelisah dan yang jelas tidak nyaman. Kekosongan menghampiri dan sungguh, teman saat ini hanya rokok. Tapi tumben, tiada efek, biasanya langung tenang, tetapi ini semakin membuat gelisah. Paradigma bergerak. Banyak pikiran. Ada yang tentang inilah, itulah, dan sebagainya. Tidak jelas. Rasanya tiada satupun dari kehidupan yang ada saat ini harus dipikirkan. Tapi kegelisahan terus ada. Menulis inipun dengan perasaan tegang dan jantung berdetak kencang. Ada apa? Mau matikah? Haaah, mungkin ini yang namanya mulai menerima hidup.

Senin, 02 Juni 2014

Ok, tapi NO!

Ceritanya lagi di kampus, nunggu ujian dimulai. 

Percakapan absurd dimulai: "Yang benar aja bos? Kesulitan saat ini gak nentuin kehidupan lo keles!"

yup, ini kata salah seorang temen kuliah ke gw yang puyeng mampus gara-gara UAS dan nasib hidup ke depan. Bukan cuma dia, gw juga ahaha. Rasanya sih saat ini macam gado-gado dicelup dalam saus stroberi yang diberi citra rasa bumbu masakan padang, dan wow, jadilah sampah, siapa mau makan, hehehe. Oh ya sebenarnya bukan apa-apa sih, cuma rasanya beda aja. 

"Tiga hari lagi coy UAS selesai, wonten menopo? Emang kon damel opo ning dalu saking bengi? 'Ra sinau bro?", tanya dia lagi. "Wong aku 'ra popo bos, nanging sing wonten yo kabeh, sinau kaliyan mikir kathah urip mawon.Wes sing penting aku galau, hestage aku ra popo lah, ahaha", jawab gw.  

Eh, jawaban dari dia ngeselin, "Hidup=belajar, belajar=hidup, yo wes kitu, ra ono sing lain. Nanging beda kaliyan tresno?". "Bah, macam mana pula kau? Opo maksudmu? Sing ene ning ndasmu yo tresno kabeh. Pie ta cuk?", jawab gw. "Aku iso ndelo'e elo (ngomong "lo" dengan logat jawa yang kentel mampus). Wes, aku tau", katanya sok tau. Ya gw jawab aja, "Men, dunia lo tu terlalu sederhana buat gw. Gw sendiri males mikir gituan lagi. Serius dah, mendingan lepas itu dulu, terus gimana ama hidup lo ke depan? Masih mikir hal-hal metafisis aje lo!". 

Ahaha, dia ketawa dan waduh, gw ngerasa aneh dah pas itu. Ternyata banyak temen-temen yang lagi mikir hal yang sama dengan gw. 

"Bukan bos, maksud aku ya pasti lo punya passion...," belom selesai ngomong, gw sahut secepat petir. "Passion impossible yak?" dan sontak beliau ngamuk, "Ojo ngono mas, yo aku iki serius. Kon iku musti transfer tresno dhateng passion."

 Gw mikir, dan bener juga ya. Ya gw sih ok ok aja untuk passion, tapi NO untuk passion yang ngabisin waktu yang gak guna. 

Yah, kalau dipikir-pikir, gw ini terlalu banyak kontradiksi. Pemikiran gw selalu kontradiktoris dengan apa yang gw jalanin. 

"Wes bro, ojo nangis nggih!" suruh dia ke gw. "What? Opo? Naon eta teh maksudna? Abdi teh ncan kitu. Kon iku sing 'ra 'oleh nangis karo ceritaku wahaha," jawab gw.

Yup, akhirnya gw mikir dari keabsurdan yang terjadi. Biasalah omongan yang baru belajar filsafat dan tergila-gila karena pemahaman yang semakin luas. Tapi jujur aja, gw sih ok, tapi NO!

Minggu, 25 Mei 2014

Bersedia...Siap...Ya....elah!

26, 28, 30, 31, 2, 3, 4, 5, 6.........angka sial kayaknya. Fiuuh, UAS oh UAS. Kayaknya bakal turun nilai nih semester dua ini. Gimana ya? Belajar banyak capek, belajar sedikit rusak nilai, gak belajar, ahahaha, gw banget. Ya, ya, ya. Target? Gak ada, yang penting cepet selesai deh. Setelah UAS nanti rasanya bakal bebas banget, bebas sebebas-bebasnya. Mungkin? Tapi yang jelas hadepin UAS aja deh. Tanggal favorit yang ditunggu ya 17 Juni. Fiuuh, mumpung hari minggu sehari sebelum UAS, ngelancong dulu ah keliling kota Malang. Males di kamar doang, buku terus ketemunya. Oh ya, rasanya gw....ah sudahlah, saatnya makan enak aja hehe. Cari bakso malang, ngerokok ampe puas, pulang belajar sekenanya dan semampunya biar otak gak soek, besok mulai UAS, nilai gak penting, yang penting liburnya itu ahahaha. Okey, saatnya berperang dengan soal-soal antah berantah. Good Luck for myself!

Selasa, 20 Mei 2014

WHO AM I

Who am I, that the Lord of all the earth
Would care to know my name,
Would care to feel my hurt?
Who am I, that the Bright and Morning Star
Would choose to light the way
For my ever wandering heart?

Not because of who I am
But because of what You've done.
Not because of what I've done
But because of who You are.

I am a flower quickly fading,
Here today and gone tomorrow.
A wave tossed in the ocean.
A vapor in the wind.
Still You hear me when I'm calling.
Lord, You catch me when I'm falling.
And You've told me who I am.
I am Yours, I am Yours.

Who am I, that the eyes that see my sin
Would look on me with love and watch me rise again?
Who am I, that the voice that calmed the sea
Would call out through the rain
And calm the storm in me?

Not because of who I am
But because of what You've done.
Not because of what I've done
But because of who You are.

I am a flower quickly fading,
Here today and gone tomorrow.
A wave tossed in the ocean.
A vapor in the wind.
Still You hear me when I'm calling.
Lord, You catch me when I'm falling.
And You've told me who I am.
I am Yours.

Not because of who I am
But because of what You've done.
Not because of what I've done
But because of who You are.

I am a flower quickly fading,
Here today and gone tomorrow.
A wave tossed in the ocean.
A vapor in the wind.
Still You hear me when I'm calling.
Lord, You catch me when I'm falling.
And You've told me who I am.
I am Yours, I am Yours, I am Yours.

Whom shall I fear?
Whom shall I fear?
'Cause I am Yours, I am Yours. 


Casting Crowns
http://www.azlyrics.com/lyrics/castingcrowns/whoami.html

Minggu, 18 Mei 2014

STAND BY DREAMS

어떤 말을 더 해야할지
eo-ddeon ma-rul deo hae-ya-hal-ji

어떤 표정 짓고 있는지
eo-ddeon pyo-jeong jit-go innun-ji

어떤 손을 잡아야 할지
eo-ddeon so-nul ja-ba-ya hal-ji

어떤 시선 보내야 할지
eo-ddeon si-seon bo-nae-ya hal-ji

어떤 선물을 해야할지
eo-ddeon seon-moo-rul hae-ya-hal-ji

어떤 밥을 먹어야 할지
eo-ddeon ba-bul meo-geo-ya hal-ji

어떤 영화를 봐야할지
eo-ddeon yeong-hoa-rul boa-ya-hal-ji

어떻게 해야 괜찮을지
eo-ddeo-kae hae-ya goen-cha-nul-ji

늘 꿈꾸던 너와나 이순간
nul koom-koo-deon neo-oa-na i-soon-gan

햇살 가득한 저 바다로 날아
haet-sal ga-du-kan jeo ba-da-ro na-ra

Stand by dreams in your heart
Stand by dreams in your heart

Let the sky delight you
Let the sky delight you

Fly me to your heart
Fly me to your heart

Let me go to your heart
Let me go to your heart

Stand by muse in your heart
Stand by muse in your heart

Let the beat delight you
Let the beat delight you

Fly me to your eye
Fly me to your eye

Let me go out of the world
Let me go out of the world

어떤 말을 더 해야할지
eo-ddeon ma-rul deo hae-ya-hal-ji

어떤 표정 짓고 있는지
eo-ddeon pyo-jeong jit-go innun-ji

어떤 손을 잡아야 할지
eo-ddeon so-nul ja-ba-ya hal-ji

어떤 시선 보내야 할지
eo-ddeon si-seon bo-nae-ya hal-ji

늘 꿈꾸던 너와나 이순간
nul koom-koo-deon neo-oa-na i-soon-gan

햇살 가득한 저 바다로 날아
haet-sal ga-du-kan jeo ba-da-ro na-ra

Stand by dreams in your heart
Stand by dreams in your heart

Let the sky delight you
Let the sky delight you

Fly me to your heart
Fly me to your heart

Let me go to your heart
Let me go to your heart

Stand by muse in your heart
Stand by muse in your heart

Let the beat delight you
Let the beat delight you

Fly me to your eye
Fly me to your eye

Let me go out of the world
Let me go out of the world


By Riddim : Ost. Orange Marmalade
lyric's source:  http://www.kjcafe.com/?tp=lyrics&singerno=3506&no=23802&nowpage=1&movepage=&singerkey=&titlekey=&ln=en
Video's source: youtube

Kamis, 15 Mei 2014

I Don't Wanna Break



Woke up such a bad dream
I stayed, you were leaving
With my heart, you were stealing
I don't care, I'd let you take it

Showed up, like a good girl
I fell for your fable
But I'm no Cinderella
I don't care, I'd let you take it

Put us back together
You said, it's forever
But I know you're pretending
I don't care, I'd let you take it
All again

And I just wanna love you
Don't wanna lose me
Don't wanna lose you, whoa oh
If it gets harder
Then I don't wanna break all alone
I wanna break in your

I just wanna love you
Don't wanna lose me
Don't wanna lose you, whoa oh
If it gets harder
Then I don't wanna break all alone
I wanna break in your

Whoa oh oh, whoa oh oh
(Don't wanna break in your)

And if it gets harder
Then I don't wanna break all alone
I wanna break in your arms

Sometimes, when I'm sleeping
I still, feel you breathing
You stole, all my good dreams
I don't care, I'd let you take it

Come on, listen closely
To the sound, that our love made
If you go, I would follow
I don't care, I'd let you take it,
All again

I just wanna love you
Don't wanna lose me
Don't wanna lose you, whoa oh
If it gets harder
Then I don't wanna break all alone
I wanna break in your

And I just wanna love you
Don't wanna lose me
Don't wanna lose you, whoa oh
If it gets harder
Then I don't wanna break all alone
I wanna break in your

Whoa oh oh, whoa oh oh, whoa oh

And if it gets harder
Then I don't wanna break all alone
I wanna break in your

Whoa oh oh, whoa oh oh (Don't wanna break in your)
Whoa oh oh (Don't wanna break in your arms)
Whoa oh oh (Don't wanna break in your)
Whoa oh oh (Don't wanna break in your arms)
Whoa oh oh (Don't wanna break in your arms)
Whoa oh oh (Don't wanna break in your arms)
Whoa oh oh, whoa oh

And I just wanna love you
Don't wanna lose me
Don't wanna lose you, whoa oh
If it gets harder
Then I don't wanna break all alone
I wanna break in your arms


From: http://www.metrolyrics.com/i-dont-wanna-break-lyrics-christina-perri.html

Rabu, 30 April 2014

Tik Tok...

Apakah anda tahu mengenai tenis meja? Olahraga yang satu ini memang seru, apalagi jika mendengar bunyi bolanya yang memantul di meja...Tik....Tok...Tok....Tik....Tok.....
Eh, jam juga bisa berbunyi seperti itu...Tik...Tok....Tik....Tok...
Sayang, hanya dua ini yang saya tau berbunyi...Tik....Tok....Tik...Tok....

Haaah, coba hati gw bisa berbunyi begitu, rasanya lucu banget hehehe. Ya, seandainya gw bisa lepas semua perasaan, cuma satu yang mau  gw teriakin, Maaaf!! Maaf banget!!! Sumpah #Maaaf!!!!

Gw gak ngerti sama diri gw sendiri. Terlalu banyak kebohongan. Tapi, itu loh! Masih banyak yang bilang gw ini bisa diandalkan, diharapkan, dan menyenangkan. Jujur, gw juga gak kuat kayak gini terus.

Tau makna atau definisi dari kata CUKUP? Sudah berulangkali gw juga mengatakan itu, bukannya anda juga? Namun, apasih sebenarnya yang dicari dari kata itu? Apa sih yang menjadi substansi dari ini semua?
Bisa gak sih gw sungguh-sungguh cukup?

Hah, oh ya, ada satu lagi yang berbunyi...Tik...Tok....Tik....Tok.....
Mau tau?
Itu adalah ketika semua ungkapan yang kita sampaikan tapi tidak pernah masuk ke dalam apapun atau kepada diri siapapun. Berarti enak sekali ya berkata-kata. Sudah keluar, eh gak ada yang bisa masuk. Fiuuh, gw harus mengambil keputusan yang berat rasanya.

Okelah, just the way you are. Who am I? It's not necessary to you. I give up.

Tik...Tok....Tik....Tok.... dan semua berhenti begitu saja.

Minggu, 27 April 2014

Sedikit Pemikiran

Berjalan ke depan
Bukan ke belakang
Dunia terasa kecil
Apabila memandang ke belakang
Tetapi yang di belakang selalu saja memberi dampak
Tidak yang inilah, tidak yang itulah
Apa sih maunya?

Terkadang pilihan terasa menyulitkan
Terkadang jujurpun membosankan
Terkadang berdiam pun menjenuhkan
Tapi kenapa rotasi hidup seperti itu?

Yup,
Sulit jika terus berpikir
Sakit bila terus merasa
Perlu adanya keheningan
Bukan sekedar diam
Melainkan bertemu Tuhan

Berani mengambil keputusan
Takut menghadapi tantangan
Bukankah ini kebodohan?

Mau membuka mulut
Tapi menutup mata
Bukankah ini kemunafikan?

Yah,
Tidak perlu memahami segalanya
Hanya perlu sadar
Sadar akan diri sendiri
Kenapa gak jalan di jalan yang ada di depan mata?
Kenapa harus melihat kanan kiri?

Ubah diri, sulit
Ubah sikap, berat
Ubah hati, beban
Ubah pikiran, wah jangan, nanti jadi kepikiran ahahaha

Ya, perlu adanya pembaharuan.
Bukan berarti meninggalkan ataupun melepas begitu saja
Harus ada daya yang mendorong untuk menjadi lebih baik

Tidak salah jalan dalam kesakitan
Tidak salah jalan di jalan yang berakhir buntu
Karena jalanan terus ada
Mau putar arah kek
Mau mutar-mutar di tempat kek
Yang penting pilihan pribadi

Siapa yang bisa merubah diri selain diri sendiri?

(Untuk kakak kelas dan kawan yang sedang terpaku akan masalahnya....KEEP MOVE ON!)

C'mon Boy!!!

Hueeee.......Hikss.......Huuhuuhuu.......Hwehwe.......
Rasanya mau nangis kenceng-kenceng. Males banget rasanya kuliah. Liburan diakhiri dengan mengerjakan 3 paper yang gak main-main banyaknya. Tiga hari bertengger di bangku kamar cuma buat nulis di depan komputer temen. Mata bengkak euy. Haaaaah, dasar filsuf, kerjaannya kalau gak nulis, mikir tinggi-tinggi. Oke, gw harus semangat lagi untuk kuliah. Rasanya sedih padahal masih mau buat cerpen soalnya banyak inspirasi satu minggu ini. Yup yup, harus semangat. Perlu stimulun nih. Apa ya? Gw lagi kangen makan nasi goreng di pinggir jalan, hehehe. Tapi susah keluar. Ah biarlah! Yang penting besok menikmati apa yang harus dinikmati. Oh ya, rasanya ada yang kurang, apa ya? Hmmm, semoga semangat aja deh :D

Rabu, 23 April 2014

Waaah, Diriku Masuk Nominasi.....

Ya ya ya, ahahaha. Gw masuk nominasi di sini. Nominasi ini diadakan untuk menunjukkan seberapa tua teman kita, ahaha. Gw dianggap orang yang paling tua di tempat ini, ahaha. Ini sungguhan! Katanya ada yang melihat dari belakang, kalau gw jalan itu mirip bapak-bapak. Model rambut, cambang, jenggot, kumis, sepatu  dan gaya berpakaian mirip foto ayah-ibu mereka di tahun 80-an. Ahaha, padahal umur gw 21, jalan 22. Gila aja kaleee....Dan yang di bawah gw tuh ada 3 orang lagi, dan umur mereka memang tua. Pokoknya tua sungguhan. Yang paling tua berumur 38, lalu 36, dan 29, dan gw pantes disebut anak oleh yang 38 tahun, lae (bahasa batak untuk memanggil adik ipar atau kakak ipar) sama yang berumur 36, dan adik oleh yang berumur 29 tahun. Waah gawat nih, ahaha. Tetap saja, komunitas memberi poling tertinggi untuk gw. Gw!?!?! Tertua di komunitas ahahaha. Cuma gara-gara gaya gw sehari-hari, gw udah masuk nominasi. Ah, yasudahlah! Hehehe, yang penting tetap diperhatikan sama komunitas :D.

Jalan

Jalan Lurus

Jika seseorang mendengar kata "JALAN" atau melihat sebuah "JALAN," pasti pemikiran yang muncul adalah sebuah konsep mengenai ARAH. Mengapa begitu? Karena jalan selalu memberi arah kepada seseorang untuk mencapai tujuan. Manusia selalu memiliki keinginan atau harapan. Jalan adalah sarana untuk menggapai hal tersebut. Bagaiman dengan gambar di atas? Menarik bukan? Ada beberapa hal yang bisa kita refleksikan selain mengenai arah, karena secara umum, jalan itu menuju suatu arah.

Pertama, bagaimana dengan arah jalan tersebut, luruskah atau bercabangkah? Banyak orang yang mengaitkan jalan antara itu lurus atau bercabang. Jika kita satukan ke dalam kehidupan kita, jalan yang kita tempuh ini pasti tidak selalu lurus, bahkan selalu bercabang, atau mungkin bingung antara mau lurus atau belok. Apabila perjalanan kita lurus, maka cepat sampai. Tapi, bila kita mengikuti cabang yang ada, memang kita akan sampai pada suatu tempat, tetapi tempat itu bukanlah tempat yang kita tuju atau yang ingin kita capai. Maka, seperti apakah jalan hidup yang kita miliki?

Kedua, lihat situasi jalan tersebut. Ramai atau sepi seperti gambar di atas? Jika seperti gambar di atas, kita akan mudah sampai karena tiada halangan. Tetapi bila jalan yang kita tempuh tiada halangan, seperti apa hidup kita ini? Bisa dikatakan hal ini terdapat dalam diri orang yang manja. Tapi bisa juga dimiliki orang yang positif, karena jalan yang sepi ini berarti ia telah mempersiapkan segala sesuatu yang terbaik dan tercepat bagi dirinya agar sampai pada tujuan dan meraih apa yang diharapkan. Ada juga jalan yang ramai. Ramai identik dengan lambat. Ya, jalan yang ramai memperlambat kita sampai pada tujuan. Tetapi, bisa juga jalan yang ramai memberikan pembelajaran bagi kita akan keberagaman dan persatuan dengan apa yang ada di sekeliling kita. Di sini tergantung kita memandang keramaian seperti apa, menghambat atau memberi warna hidup baru?

Ketiga, jangan lupa bahwa jalan adalah sarana. Sarana untuk mencapai tujuan kita. Bukan berarti kita menyepelekan jalan, karena dengan memiliki jalan, entah itu baik, buruk, pemandangan bagus atau tidak, bercabang atau lain-lain, kita akan meraih tujuan kita. Coba tanpa jalan. Mau dibawa ke mana hidup ini?

Ya, mungkin saya hanya bisa menemukan ketiga refleksi singkat ini. Lebih baik setiap pribadi memiliki pandangan tersendiri mengenai jalan. Selain ketiga hal tersebut, saya masih memiliki refleksi pribadi dari dalam diri saya sendiri mengenai jalan. Jalan itu bagaikan hidup. Hidup yang kita jalani merupakan jalan. Mengapa saya katakan jalan? Saya memandang bahwa kita hidup di dunia ini adalah jalan utama menuju arah yang satu, yaitu TUHAN. Nah, karena tujuan yang satu itu, kita ini memiliki beragam keunikan dalam menjalaninya, sehingga jalan yang kita raih itu tidak pernah sama. Ada yang menyilang, menyamping, lurus, berbelok, dan lainnya. Ini adalah bukti bahwa di jalan yang utama, masih ada jalan lain yang membawa kita pada tujuan itu. Mungkin ada kaitannya dengan peribahasa "Banyak jalan menuju ke Roma." Inilah yang saya rasa sebagai suatu tujuan yang satu, tetapi beragam jalan yang kita raih. Hehehe, mungkin ini dulu. Thanks!

JALAN
ARAH
BERCABANG
RAMAI
TUJUAN
"Itulah Jalan" 



(Foto dari: Theofila Riviena)

Selasa, 22 April 2014

Vampir

Rasanya aku seperti seorang vampir. Diriku ini amat senang dengan suasana malam. Indah, terang, dan nyaman. Ya, aku peminum darah. Darah kebebasan, bukan darah manusia. Mengapa? Aku tidak akan bisa merasakan matahari jika aku meminum darah manusia. Aku hanya meminum darah kebebasan. Tetapi, mengapa banyak manusia yang menghindar dariku?

Jelas aku vampir. Begitu menakutkan. Tiada seorang pun yang berani dekat denganku. Hanya, ketika aku diam, mereka tidak tahu, baru mereka berani dekat denganku. Aku termasuk sosok yang dingin. Bukan karena peminum darah, tetapi karena aku vampir bersosok manusia. Punya hati, jantung, otak, dan yang berbeda hanya asupan nutrisi yang kuterima. Aku haus darah. Tapi bukan darah manusia. Aku punya hati terhadap manusia. Aku tidak akan mengusik mereka. Akupun hanya diam.

Aku hidup bersama manusia biasa. Aku tahu bahwa masih banyak vampir lain yang hidup selain aku. Tapi, itulah yang mereka gunakan. Diam, tak memberi tahu jati dirinya. Manusia biasa pun tak tahu mereka ada di sekelilingnya. Setidaknya, ini membuktikan kedamaian antara kaum manusia vampir dengan manusia biasa. Dan, tiada satu surat kabarpun yang menulis tentang manusia yang digigit vampir. Hingga peristiwa itu terjadi. Peristiwa yang mengecewakanku sebagai vampir.

Seorang manusia mati tergeletak di pinggir jalan. Ia dinyatakan tewas setelah digigit vampir. Manusia pun mulai ketakutan. Aku terancam. Manusia mulai untuk membasmi kaumku. Aku tidak kuasa untuk menampilkan diriku di hadapan umum. Jika aku keluar, aku akan dicemoohi dan dilempari. Aku bagaikan monster di mata mereka. Tidak, bukan aku saja, tapi kaumku. Mereka tidak paham. Mereka hanya takut. Dan saat itu, jelas aku dicap sebagai penyembah dewa kalelawar, bukan kupu-kupu. Sekali lagi, aku terancam.

Aku ingin pindah dan menetap di suatu tempat yang tak ada manusia. Tapi aku merasa percuma. semua itu percuma. Aku tetaplah dicap sebagai monster pembunuh. Haus darah! Padahal, aku tidak meminum darah manusia. Ya, rasanya tiada harapan hidup. Aku ingin mati. Mati pun tidak bisa. Tetap saja ada orang yang tidak tahu identitasku dan menolongku dari beragam uji coba bunuh diri. Yah, walau vampir, aku tetap "manusia". Orang-orang yang menolongku mau menjadikanku sahabat. Memang benar, mereka mau membantuku, memperhatikanku, dan melindungiku. Aku bisa tersenyum. Aku mulai tertolong. Hingga saat itu tiba. Aku mengaku kalau aku vampir.

Mulailah gejolak hati nan pedih. Amat pedih. Bagai tertusuk pedang bermata dua. Aku ditinggal orang-orang yang baru saja menjadi sahabatku. Mereka takut! Padahal di situ, aku mengenal senyum, tertawa, kehangatan, rasa pahit, asam, asin, dan manis, serta cinta. Tapi mau bagaimana lagi? Aku penganut kalelawar penghisap darah, bukan kebebasan. Ya, karena berita itu! Berita yang menyudutkan kaumku! Lalu, apa jalan yang terbaik? Kosong. Sendiri. Sepi. Diam!

Akupun tetap berjalan. Aku menyusuri kota di malam hari. Aku melihat dunia manusia biasa. Indah, begitu banyak warna. Tak terasa, akupun bisa menangis. Aku tersedu di bawah langit malam dan jalanan yang sepi. Aku tahu aku vampir. Aku meminum darah. Darah kebebasan. Bukan darah manusia. Aku bisa hidup seperti manusia biasa. Tetapi, mengapa manusia biasa tiada yang mau memahamiku?

Peyesalan terus berlanjut. Aku kecewa akan identitasku. Aku mulai dirajut kesuraman dunia. Mengapa aku terlahir sebagai vampir? Mengapa aku selalu dianggap monster? Mengapa aku bukan penganut kupu-kupu indah di taman bunga? Mengapa mereka melihatku bagai kalelawar penghisap darah? Aku hanya bisa diam. Diam tanpa suara. Diam dengan air mata yang terus meleleh. Diam, dan terdiam.

Beritapun mulai tersebar di pagi hari. Berita hangat dan masih baru. Manusia yang tewas di berita sebelumnya, ternyata mati bukan karena vampir. Manusia mulai menangkap pembunuhnya. Ternyata manusia biasalah yang membunuhnya. Mereka membunuh dengan mengatasnamakan vampir. Mereka takut dihakimi sesamanya. Vampir menjadi kambing hitam. Diriku pun mulai tenang. Tetapi, masih banyak yang belum percaya padaku, seorang vampir peminum darah. Darah kebebasan. Mereka masih menganggapku monster.

Aku mulai panas. Aura vampir sejatiku pun mulai tampak. Aku tidak tahan akan kesalahpahaman. Akupun berdiri di hadapan semua orang, manusia biasa. Aku mengatakan semuanya di depa mereka, para manusia biasa. "Aku adalah vampir. Vampir haus darah! Darah kebebasan! Darah murni, bukan darah kotor manusia. Aku tidak membunuh manusia biasa. Manusia biasalah yang membunuh sesamanya! Aku memang monster. Monster yang sama dengan manusia. Punya hati, pemikiran, rasa, lapar, dan cinta. Tetapi aku bukan kupu-kupu. Aku tidak menghisap madu. Aku menghisap darah. Darah kebebasan, bukan darah manusia." Akupun beranjak pergi  setelah berdiri di hadapan manusia yang berjumlah jutaan. Kaumku, para vampir lain, hanya menangis terharu. Mereka pun pergi. Tinggal manusia biasa yang ada di sana. Giliran mereka terdiam. Bisu! Entah berpikir atau makin takut. Mereka mulai diam.

Pagi pun mulai merekah. Matahari mulai mencercah jiwa sepi. Akupun memberanikan diri keluar dari kegelapan. Ribuan, tidak, jutaan manusia menungguku di luar. Mereka menangis dan meminta maaf. Aku terhenyak diam. Tidak mengerti. Mereka sadar. Aku bukan pembunuh. Merekalah pembunuh. Sahabat mereka sendiri mati karena mereka hisap darahnya. Bukan aku. Aku penghisap darah. Darah kebebasan.

Akhirnya, aku bisa hidup. Hidup sebagai vampir yang berperikemanusiaan. Aku kembali hidup di antara mereka. Inilah mimpiku yang terwujud. Aku bisa bebas. Bebas seperti kupu-kupu. Aku adalah kalelawar. Kalelawar dengan kupu-kupu di dalamnya. Aku tidak takut mentari, bahkan rembulan. Aku mulai dianggap. Aku bisa merasa, mencinta, dan hidup. Aku adalah vampir. Haus akan darah kebebasan, bukan darah manusia biasa. Kini semuanya membaik. Tiada perbedaan. Sebab, aku vampir. Manusia vampir. Vampir yang kemanusiaan. Bukan manusia yang kevampiran. Ya, aku bahagia. Bebas. Tiada kesulitan. Aku mulai hidup. Hidup sebagai manusia biasa. Ini berkat darah! Darah kebebasan! Darah yang telah membawaku diam! Ya, sekali lagi, aku vampir. Vampir manusia. Dengan darah kebebasan!

Aku menakutkan
Aku menyeramkan
Aku peminum darah
Darah kebebasan
Bukan darah manusia

Vampir
Itulah aku
Aku sendiri
Walau aku seperti mereka
Manusia biasa

Aku bisa berpikir
Aku tahu keberagaman
Aku merasakan cinta

Tapi aku vampir
Vampir yang menakutkan
Tiada yang menghampiriku
Selain para sesamaku

Diam
Aku terus diam
Hingga waktunya tiba

Dunia tidak menerimaku
Hingga akhirnya mereka tahu
Aku kalelawar berhati kupu-kupu
Bisa terbang
Menghisap darah madu
Darah kebebasan
Bukan darah manusia

Ya, aku vampir
Vampir manusia
Bisa merasa
Bisa mencinta
Bisa bersama
Karena aku
JUGA MANUSIA


(Terinspirasi dari komik "Orange Marmalade")




Nikolaus P.T.

Ter......

Okay. Gw nggak tau nih. Ada yang aneh dengan zaman ini. Sore ini hujan baru berhenti, tapi kok nggak bisa liat pelangi yah? Ahh, padahal gw rindu ngeliat pelangi. Fiuuh, gak apa. Oh ya, gw baru selesai baca komik yang di mana tuh komik adalah satu-satunya yang bisa bikin gw nangis di depan komputer (soalnya gw baca diinternet). Ceritanya sih tentang kehidupan seorang gadis vampir. Gw bukan nangis karena soal hidup percintaannya, tapi gw lihat sisi kemanusiawiannya. Bayangkan! Vampir yang notabene manusia, memiliki perasaan yang sama dengan manusia, adalah peminum darah. Tapi yang satu ini beda, karena vampir tidak akan bisa keluar dari rumah dan terkena cahaya matahari bila dia meminum darah manusia. Jadinya dia minum darah babi. Yup. Saya senang endingnya. Gimana tidak? Manusia takut dengan vampir hanya karena peminum darah. Coba pikir mengapa vampir minum darah? Karena dari situasi dan kondisinya serta keluarganya yang memang turun menurun peminum darah. Walau bukan darah manusia, tetapi tetap mereka adalah vampir. Tapi mereka bisa hidup bersama manusia, bahkan bisa memiliki rasa dengan manusia. Wow, padahal manusia jika mendengar vampir tidak akan pernah mau mendekatinya. Bayangkan diri kita sendiri! Manusia, yang hidup dengan manusia, masih ada aja yang saling membunuh, mencemooh, korupsi, dan perbuatan negatif lainnya terhadap sesama manusia. Yah itulah dunia. Hehe. Tapi rasanya hari ini gw mulai merasa kekosongan yang luar biasa. Ada apa ya? Haaaah, seandainya gw bisa berpikir dengan lebih baik. Ahaha, bukan saatnya galau. Fiuuh, rasanya hanya ingin menuangkan isi hati dalam blog ini, tetapi sulit menulisnya. Ada beribu-ribu tulisan akan perasaan yang ingin gw tulis. Tapi saat ini gw sedang berpacu dengan waktu. Jadi, gw hanya bisa tulis di buku pribadi, bukan di sini. Okay, keep moving boy!

Independen

Yah, sebenarnya judul postingan ini gak terlalu gw suka, soalnya serapan sih, macam bangsa Indonesia gak punya bahasa ibu. Tapi gw gunakan jugalah biar gak ketinggalan zaman. Okay, sebenarnya gini, kata independen ini mengungkapkan sebuah kepribadian seseorang yang bebas. Gw pengen hidup bebas. Bebas dari segala macam ini itu, tiada yang terlalu mengatur langkah yang ingin gw capai. Lalu, kenapa banyak orang yang gak percaya sama gw? Padahal gw jelas-jelas ingin bebas. Mereka malah mengejek, mencemooh, main belakang, yah, tapi gw saat ini hanya bisa diam. Apakah independen yang berarti bebas atau berdiri sendiri ini selalu diidentikkan dengan diam? Sampai kapan? Seandainya gw punya senjata proton, ingin rasanya memusnahkan orang-orang yang menghalangi kebebasan gw, gak peduli mau saudara sendiri ataupun teman dekat. Rasanya dunia gw mulai diliputi keadaan yang tidak bisa diselesaikan dengan cepat. Mengapa keinginan gw selalu dihalangi banyak orang? Kenapa setiap langkah gw dibatasi oleh teman sendiri yang katanya satu angkatan satu keluarga satu komunitas? A***ng lah semuanya. Gw lebih bahagia tinggal di kamar, berteman dengan sepasang cicak dengan satu cicak muda yang selalu meminum kopi bekas yang gw seduh, tokek yang bersembunyi di balik lemari baju pun memberikan nyanyian merdu setiap malam, apalagi semut kecil yang membersihkan remah-remah snack gw yang jatuh di lantai. Beda dengan orang yang sok perhatian dengan gw di tempat ini. Bisanya menyudutkan orang, hingga gw sendiri hilang kepercayaan terhadap mereka. Salahkah jika gw bersikap independen? Salahkah kalau gw punya hidup yang beda dari yang lain? Salahkah kalau gw aneh atau suka berjalan sendiri sesukanya? Dunia luas bung, percuma kalau kita menginginkan orang lain memiliki keinginan yang sesuai dengan keinginan kita sendiri. Untung gw udah pengalaman soal begini. Namun satu hal, tiada yang boleh merasukki diri gw saat ini. Gw hanya diam dan menunggu. Apa yang diinginkan seluruh manusia yang ada di sekeliling gw terhadap pribadi atau diri gw? Gw gak tau. Gw hanya menunggu dan diam. Gw menunggu saat-saat untuk mukul orang. Mau teman kek mau saudara kek, pokoknya apa yang gw terima gw akan beri dua kali lipat. Memang kalau dipikir-pikir gw ini kaum religius dalam komunitas religius. Tapi kalau komunitas pun macam begini? Cih, ada saatnya. Ingat saja, ada saatnya! Gw belum mengutuk orang lagi! Temankah jika mendiskriminasi satu orang? Heh, gw hanya ingin mengatakan, siapakah yang akan tertawa di akhir!

Persahabatan bukan sekedar ucapan, tetapi juga pembuktian.
Dunia yang tidak menghargai kebebasan perlu ditanyakan keadaannya.
Tiada yang bisa merubah orang kecuali orang itu sendiri.
Mengatasnamakan iman? Jangan MUNAFIK! (Gw benci kata ini!)
Diam! Bukan berarti takut! Dalam diam, 1001 cara telah ditemukan untuk melancarkan serangan!

Jadi, membingungkankah saya?